Selasa , Desember 7 2021
Home / Opini / Ingin Terbaik….Bangunlah Keahlian Anda

Ingin Terbaik….Bangunlah Keahlian Anda

Oleh: Dr. Suhardi Duka, MM

Kita banyak menemukan orang-orang hebat. Baik dari sisi sains, penemu, manager sukses, kaya, juara olimpiade ataupun atlit-atlit legendaris dunia. Mereka itu terbaik di bidangnya.

Lalu, apakah kehebatan mereka itu karena bakat lahir? Tidak. Sekalipun itu juga dibutuhkan. Kata Thomas Alva Edison: “Jenius itu 1 persen bakat, dan 99 persen kerja keras”.

Bakat sering menjadi alasan pembenaran seseorang dalam upaya melemahkan dirinya saat mengejar suatu harapan. Bahkan sering menjadi kambing hitam, bahwa saya, atau anda tidak punya bakat menjadi pemimpin maupun jadi atlit tertentu. Saya atau anda tidak memiliki garis keturunan dan bahkan asal-usul.

Dalam Sebuah buku yang ditulis Anders Ericsson dan Robert Pool yang berjudul PEAK menyimpulkan dalam penelitiannya. Bahwa peran terpenting bagi manusia untuk mencapai kelas keahlian adalah berdedikasi membangun keahliannya sendiri dengan latihan. Sedangkan bakat adalah bagian lain. Tapi membangun keahlian, adalah kunci.

Menurut Ericsson, upaya latihan yang lebih di atas normal, sistem kerja otak dan tubuh akan berusaha menyesuaikan dengan lingkungannya. Artinya porsi latihan yang berlebih bagi atlit dan porsi kerja yang lebih bagi pengusaha atau ilmuan-peneliti, otaknya akan selalu menyesuaikan, menjaga keseimbangan. Meski di tahap awal bisa saja mengalami kendala. Tapi dengan upaya yang terus untuk membangun keahliannya, maka ia tetap akan mencapainya.

Pernahkah Anda berpikir bahwa anda tidak punya bakat, dan tidak memiliki kelebihan? Mulai detik ini, hilangkan pikiran itu. Karena pada hakekatnya manusia diciptakan oleh Tuhan beriringan dengan takdirnya.

Di dalamnya telah tergenggam bakat dan keahlian atau rezekinya. Rezeki seseorang itu adalah keahliannya. Tidak akan suskes seorang nelayan bila ia mengail di bukit. Juga tidak akan sukses seorang gembala bila beternak di laut. Artinya apa yang telah menjadi keahlianmu selama ini itulah yang kau tuju.

Saya ingatkan, mengubah arah haluan di tengah badai tidaklah mudah. Bahkan sangat beresiko. Olehnya itu, orang-orang yang telah sukses di bidangnya berpikir tiga kali untuk ingin mengubah haluan kecuali kalau landasannya sudah sangat kokoh.

Mungkin bisa saja ada orang suskes di dua Papan Selancar kehidupan secara bersamaan. Tapi itu jelas sangat selektif. Bahkan sering tidak langsung sukses. Kadang harus gagal dulu pada tahapan pertama. Hingga sukses pada etape selanjutnya. Bahkan banyak yang gagal sama sekali. Ingat Ada pepatah kuno: “mencari jarum, kapak di tangan terlepas”.

Menjadi ahli tidaklah mudah. Selain melalui proses panjang dengan latihan dan kerja keras, juga membutuhkan fokus agar dapat mencapainya. Orang yang tidak memiliki keahlian pada bidang tertentu kemudian mengerjakan operasi di kamar operasi, sama halnya membunuh kehidupan.

Untuk itu, Agama memberi arah agar memberikan tanggung jawab pada ahlinya. Jangan mempertaruhkan nasib orang banyak dengan sepenggal kepentingan yang sempit dan berjangka pendek.

Demokrasi adalah fakta, bukan utopia. Karenanya, kita harus mampu melihat faktanya, lalu memberi keputusan. Jangan berpraduga apalagi sampai melebar ke medan fitnah. Karena hanya akan berakibat buruk bagi masa depan.

Inti Demokrasi salah satunya adalah komitmen. Rakyat berkomitmen untuk memberi dukungan kepada pemimpin dan calon pemimpin. Sebaliknya, calon pemimpin juga berkomitmen kepada rakyat pemilih untuk melakukan sesuatu sebagai visi dan misinya.

Persoalannya, rakyat berada pada posisi lemah karena kontrak politiknya, rakyat lebih dahulu memberi. Untuk itu membangun Demokrasi yang baik dibutuhkan kehadiran rakyat dalam melakukan kajian cerdas. Utamanya dalam mengikuti arus politik dan isu-isu yang berkembang. Terpenting lagi, sebab ini jelang Pemilihan Gubernur. #ini jalan kita. (sdk)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *