Majene, 8enam.com.-Siapa bilang memenuhi gizi keluarga sehat harus mahal? Fenomena menarik justru terlihat di Aula Kantor Kelurahan Baurung, Kecamatan Banggae Timur, Kabupaten Majene, Selasa (28/7/2026). Puluhan ibu hamil, menyusui, dan orang tua balita mendadak berkumpul untuk membongkar ‘resep rahasia’ yang selama ini ada di sekitar pekarangan rumah mereka sendiri.
Aksi tak biasa ini diinisiasi oleh Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP-PKK) Sulawesi Barat bersama Dinas Pangan Daerah Sulbar lewat program Gerakan Edukasi Pangan dan Gizi. Usut punya usut, gerakan ini hadir untuk menjawab tantangan besar: bagaimana caranya mengatasi masalah kurang gizi dan stunting tanpa harus membebani dompet warga?
Ubah Pola Pikir: Pangan Lokal, Hasil Maksimal
Kehadiran 60 peserta dalam kegiatan ini bukan tanpa alasan. Mereka diajak untuk mengubah cara pandang terhadap makanan sehari-hari. Ternyata, bahan pangan lokal yang murah dan mudah didapat di sekitar Majene menyimpan potensi gizi luar biasa yang tak kalah dari bahan makanan mahal.
Langkah ini sejalan dengan Panca Daya Gubernur Sulbar, Suhardi Duka, dalam membangun Sumber Daya Manusia (SDM) yang unggul sekaligus menggenjot daya saing ekonomi berbasis potensi daerah.
Beberapa pakar dan pengurus yang turun tangan langsung membagikan rahasianya antara lain:
Pemanfaatan Pangan Lokal: Kabid Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Dinas Pangan Sulbar, Sofiawati Sofyan, membeberkan bagaimana memilih bahan pangan bergizi tinggi, terjangkau, dan mudah didapat.
Manajemen Dapur Bijak: Sekretaris Umum TP-PKK Sulbar, Faika Bujaeramy, mengajarkan trik mengelola sumber daya keluarga, menekan food waste (pemborosan pangan), dan memastikan gizi harian tetap terpenuhi secara efisien.
Gizi Maksimal Tanpa Mahal: Staf Ahli IV TP-PKK Sulbar, Salmah Duka, mempertegas pentingnya mengolah protein dan energi dari sumber lokal tanpa bergantung pada pasokan luar yang serba mahal.
Bukan Cuma Teori, Langsung Masak dan Bawa Pulang Bantuan
Suasana makin seru saat memasuki sesi praktik memasak. Para peserta tidak hanya duduk mendengar, tetapi juga menyaksikan langsung cara mengolah bahan lokal menjadi sajian lezat berprinsip B2SA (Beragam, Bergizi, Seimbang, dan Aman) yang disukai anak-anak.
Tak pulang dengan tangan kosong, seluruh peserta—khususnya ibu balita kurang gizi, ibu hamil, dan menyusui—membawa pulang paket bantuan pangan bergizi berisi beras, telur, abon, minyak goreng, hingga gula untuk langsung diterapkan di rumah.
Kunci Ketahanan Pangan Ada di Dapur Rumah
Secara terpisah, Kepala Dinas Pangan Daerah Provinsi Sulbar, Suyuti Marzuki, menegaskan bahwa kunci utama melawan stunting sebenarnya ada pada kesadaran di tingkat keluarga.
”Ketahanan pangan tidak hanya diukur dari ketersediaan pangan, tetapi juga dari kemampuan masyarakat mengolah dan mengonsumsi pangan yang bergizi, beragam, dan aman,” tegas Suyuti.
Melalui sinergi erat antara pemerintah daerah, TP-PKK, dan masyarakat, langkah kecil dari Baurung ini diharapkan jadi pemicu lahirnya generasi Sulawesi Barat yang lebih sehat, cerdas, dan sejahtera.
Editor : Ammar







