Mamuju, 8enam.com.-Kabut asap tebal yang mendadak muncul dan membumbung tinggi di wilayah Pangale, Kabupaten Mamuju Tengah, pada Senin (5/10/2026) langsung memicu kepanikan warga dan menyedot perhatian serius tim penanggulangan bencana.
Merespons laporan darurat tersebut, BPBD Provinsi Sulawesi Barat di bawah arahan Gubernur Suhardi Duka dan Sekda Junda Maulana langsung bergerak cepat menelusuri sumber asap yang meresahkan tersebut.
Namun, hasil verifikasi awal dari BPBD Mamuju Tengah justru memicu teka-teki baru. Dalam dua hari terakhir, tidak tercatat adanya titik api atau kejadian Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) baru di wilayah Kecamatan Pangale. Asal-usul kepulan asap pekat tersebut pun belum bisa dipastikan seratus persen.
Dua dugaan kuat kini menjadi fokus penyelidikan tim di lapangan:
Asap Sisa Kebakaran Bawah Tanah (Gambut): Asap diduga berasal dari bara sisa Karhutla lama yang membakar bawah permukaan tanah (smoldering) di area terisolasi. Salah satunya bekas Karhutla seluas 1 hektare di Desa Polocamba, Pangale, pada 30 September lalu yang sulit dijangkau armada pemadam, serta titik Karhutla di Tobadak dan Budong-Budong.
Asap Kiriman Wilayah Tetangga: Petugas tidak menampik kemungkinan adanya gumpalan asap kiriman dari luar wilayah yang terbawa angin, yang kini tengah diverifikasi melalui pemantauan meteorologi.
Kalaksa BPBD Sulbar, Muhammad Yasir Fattah, menegaskan pihaknya tidak akan menganggap remeh laporan ini dan terus menyiagakan personel di lokasi.
”Kita tidak boleh mengabaikan setiap informasi, terutama terkait Karhutla dan kondisi asap yang dapat berdampak terhadap kesehatan masyarakat. Setiap laporan langsung kami verifikasi,” tegas Yasir Fattah.
Mengingat ancaman kualitas udara yang memburuk, BPBD mengimbau warga—khususnya kelompok rentan seperti anak-anak dan lansia—untuk tetap waspada dan membatasi aktivitas di luar rumah sembari menunggu hasil penelusuran akhir tim gabungan.
Editor : Ammar







