Pasangkayu, 8enam.com.-Ancaman penularan penyakit mematikan di jajaran wilayah perbatasan Sulawesi Barat (Sulbar) kian diwaspadai. Guna mengantisipasi ledakan kasus, tim Resilient and Sustainable Systems for Health (RSSH) Adinkes Provinsi Sulbar bergerak cepat menyerbu Ruang Pola Kantor Dinas PMD Kabupaten Pasangkayu pada Rabu (8/7/2026).
Pertemuan taktis ini digelar khusus untuk membangun barikade pertahanan melalui Pertemuan Penguatan Kemitraan untuk Pencegahan dan Pengendalian AIDS, Tuberkulosis, dan Malaria (ATM). Pemprov Sulbar menuntut dilaksanakannya operasi senyap dan pelacakan kasus secara radikal yang wajib dikomandoi langsung oleh jajaran camat hingga kepala desa.
Keluar dari Zona Nyaman: Sektor Kesehatan Tak Bisa Jalan Sendiri!
Rapat koordinasi yang dibuka langsung oleh Kepala Dinas PMD Pasangkayu, I Nyoman Suandi, ini turut dihadiri para petinggi daerah seperti Kepala Bapperida Kartini, Kepala Dinkes drg. Rukman, hingga perwakilan Puskesmas Pasangkayu I dan Bambalamotu.
Dalam sesi diskusi yang berlangsung panas, Assistant Program Coordinator RSSH Sulbar, Muh. Saleh, menegaskan bahwa penjinakan virus dan bakteri mematikan ini mustahil sukses jika hanya dibebankan pada pundak dinas kesehatan.
Instruksi taktis penguatan garda depan yang wajib dieksekusi meliputi:
-
- Perburuan Kasus di Desa: Kepala desa dan perangkatnya wajib turun tangan memantau warga, mendeteksi penularan, dan meningkatkan angka penemuan kasus baru.
- Pengawalan Pengobatan Ketat: Memastikan penderita TB dan HIV mendapatkan obat secara berkala tanpa putus guna mencegah resistensi obat.
- Edukasi Komunitas Agresif: Menghapus stigma negatif di masyarakat dan menggerakkan kader posyandu untuk melakukan sosialisasi dini.
”Kolaborasi lintas sektor merupakan kunci untuk memperkuat sistem kesehatan yang tangguh. Pemerintah desa, kecamatan, dan seluruh mitra memiliki peran penting dalam meningkatkan penemuan kasus dan keberhasilan pengobatan!” seru Muh. Saleh.
Visi Besar Suhardi Duka: Membangun Benteng Kesehatan Inklusif
Proyek penguatan kemitraan RSSH Adinkes ini merupakan bagian dari cetak biru pelayanan publik yang diamanatkan oleh Gubernur Sulawesi Barat, Suhardi Duka, demi mewujudkan visi Sulbar Maju dan Sejahtera.
Secara terpisah, Kepala DKPPKB Provinsi Sulbar, dr. Nursyamsi Rahim, menaruh harapan besar agar hasil dari Pasangkayu ini menjadi percontohan bagi kabupaten lain dalam memutus mata rantai penularan penyakit menular seksual dan tropis.
”Kami berharap pertemuan ini semakin memperkuat komitmen seluruh pemangku kepentingan dalam mendukung upaya eliminasi Tuberkulosis, pengendalian HIV/AIDS dan Malaria, serta mewujudkan sistem kesehatan yang lebih tangguh,” pungkas dr. Nursyamsi.
Dengan diketuknya komitmen bersama ini, para camat dan kepala desa di Pasangkayu kini resmi memegang tanggung jawab baru sebagai perpanjangan tangan dinas kesehatan, siap mengunci wilayah masing-masing dari penyebaran tiga penyakit menular berbahaya tersebut. (Rls)
Editor : Ammar







