Example 300250
DaerahMamujuPendidikan

Utusan Kemenkomdigi RI di Bimtek Sulbar Mandarras : Literasi Bukan Cuma Pintar Pakai Aplikasi, Tapi Biar Gak Disetir Teknologi!

×

Utusan Kemenkomdigi RI di Bimtek Sulbar Mandarras : Literasi Bukan Cuma Pintar Pakai Aplikasi, Tapi Biar Gak Disetir Teknologi!

Sebarkan artikel ini

Mamuju, 8enam.com.-Perkembangan teknologi digital hari ini tidak hanya mengubah cara berkomunikasi, tetapi sudah melangkah jauh mengontrol cara berpikir dan perilaku manusia. Peringatan keras tersebut dilontarkan oleh Pandu Literasi Digital Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemenkomdigi) RI, Shalahuddin, di hadapan 150 peserta Bimbingan Teknis (Bimtek) Literasi Informasi di Mamuju, Kamis (21/05/2026).

​Agenda yang diinisiasi oleh Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Sulbar ini digelar sebagai bentuk eksekusi nyata dalam mendukung program Sulbar Mandarras (Sulbar Cerdas dan Mandiri) di bawah kepemimpinan Gubernur Suhardi Duka (SDK).

​Membawakan materi bertajuk “Digitalitas dan Literasi Digital”, Shalahuddin membedah fenomena di mana hampir seluruh lapisan masyarakat kini sudah terhubung secara daring (online), namun mayoritas belum sadar akan dampak psikologis yang mengintai mereka.

​“Masalahnya, hidup kita sudah full digital, tapi cara kita memahami dunia masih menggunakan cara-cara lama. Selama ini kita sering menganggap literasi digital itu cukup dengan pelatihan cara pakai aplikasi atau cara aman di internet. Padahal, yang jauh lebih penting adalah memahami cara berpikir kita dan bagaimana dunia digital sebenarnya mengontrol kehidupan kita,” sentil Shalahuddin menohok.

​Tantangan Pendidikan: Konten Edukasi Kalah Viral dari Hiburan

​Shalahuddin memaparkan, era digitalitas telah memicu pergeseran otoritas yang luar biasa hingga menantang struktur sosial yang mapan. Di sektor pendidikan misalnya, tantangan guru dan pustakawan kini berlipat ganda karena karakteristik generasi hari ini yang jauh lebih cepat bosan.

​Dunia pendidikan dipaksa bertarung di ruang siber, di mana konten edukasi yang bernilai sering kali kalah pamor dan tenggelam oleh konten-konten hiburan digital yang lebih mudah viral.

​“Rendahnya literasi itu bukan cuma soal malas membaca, tetapi berkaitan erat dengan struktur sosial dan akses internet masyarakat. Dampaknya bahkan memberi tekanan psikologis pada aspek mental serta identitas generasi muda,” urainya.

​Tiga Pilar Penjaga Nalar Publik di Akar Rumput

​Guna membangun benteng pertahanan atau resiliensi digital yang kokoh di Sulawesi Barat, utusan Kemenkomdigi RI ini membagi peran strategis kepada tiga elemen penting yang hadir dalam Bimtek tersebut:

  • Guru: Wajib bertindak sebagai perawat cara berpikir kritis generasi muda di dalam ruang kelas.
  • Pegiat Literasi: Menjadi motor penggerak untuk membangun nalar kritis masyarakat di tingkat akar rumput.
  • Pustakawan: Berfungsi sebagai filter atau penjernih sumber informasi publik di tengah kepungan hoaks.

​“Kita sama sekali tidak akan bisa menghentikan laju perkembangan teknologi. Tapi yang bisa kita lakukan adalah memastikan bahwa manusialah yang tetap memegang kendali penuh, bukan sebaliknya. Literasi digital sejatinya bukan soal seberapa pintar kita menggunakan teknologi, tapi soal bagaimana kita tetap menjadi manusia yang punya arah di tengah derasnya arus teknologi,” pungkas Shalahuddin mengakhiri pemaparannya.

​Untuk diketahui, Bimtek ini juga menghadirkan dua narasumber berbobot lainnya, yaitu Farhanuddin (Dosen Fisip Hukum Unsulbar / BPIP-RI) serta Muhammad Ridwan Alimuddin (Penulis dan Duta Baca Sulbar), dengan komposisi peserta dari unsur guru, pustakawan, dan pegiat literasi se-Sulbar.

Editor: Ammar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *