Selasa , Oktober 27 2020
Home / Daerah / Temu Relawan Kemanusiaan Mengenang 1 Tahun Bencana Gempa, Tsunami Dan Likuifaksi Pasigala

Temu Relawan Kemanusiaan Mengenang 1 Tahun Bencana Gempa, Tsunami Dan Likuifaksi Pasigala

Mamuju, 8enam.com.-Satu tahun bencana gempa, tsunami dan Likuifaksi Palu Sigi dan Donggala (Pasigala) telah berlalu. Mengenang 1 tahun tugas kemanusian, 8 organisasi menginisiasi kegiatan temu relawan dan penggiat kemanusiaan.

Kegiatan tersebut berlangsung di project kafe Jalan Cik Ditiro Jabupaten Mamuju Sulbar, Minggu (29/9/2019) malam.

Kegiatan itu diinisiasi 8 organisasi pegiat kemanusiaan yang ada disulbar diantaranya Yayasan karampuang, IWO Sulbar, Pemuda Pancasila, Bay Andre Vlo Sulbar, Kawan Anto, APPK Sulbar, dan Sulbar Online selaku media support kegiatan.

Pada kesempatan itu panitia penyelenggara kegiatan Aditya Arie Yudhistira yang juga pendiri Yayasan karampuang mengatakan, Kegiatan ini untuk bertemu bersilaturahmi karena ternyata, di Mamuju ini ada begitu banyak organisasi-organisasi relawan dan kemanusiaan serta individu-individu yang mau membantu sesama.

“Malam ini sebenarnya, 1 tahun yang lalu itu kita semua sibuk di mamuju, kalau teman-teman mengingat flashback 1 tahun yang lalu. Satu tahun yang lalu dimalam ini kita semua sibuk. Ada yang menggalang dana, berkomunikasi mengunpulkan apa yang kita harus lakukan untuk membantu saudara kita di Pasigala saat itu,” kata Aditya.

29 September 1 tahun yang lalu kata Aditya, modal sosial masyarakat Mamuju Sulawesi Barat itu tumbuh besar sekali.

“Bayangkan kita yang ada di Mamuju ini yang pertama mengakses Pasigala itu pada saat bencana terjadi. Mau dari personil aparatnya, mau dari organisasi kemanusiaannya maupun yang individu teman-teman media juga bahkan bergerak kesana untuk memberikan laporan,” ujarnya.

Dia katakan, satu yang membanggakan malam ini adalah, ternyata modal sosial masyarakat itu masih ada. Status apapun pada malam itu satu tahun yang lalu, 10 hari kedepannya dari 29 september satu tahun yang lalu modal sosial tumbuh. Bayangkan teman-teman yang pulang dari Palu, masyarakat menyediakan makanan dipinggir jalan lalu memanggil singgah makan dulu. Bayangkan spontanitas masyarakat kita dari soromana sampai paku itu menyediakan makanan.

“Artinya adalah, modal sosial itu ada di masyarakat kita dan itu adalah salah satu modal utama kita untuk menggerakkan kerja-kerja kemanusiaan,” ungkapnya.

Yang kedua tambahnya, tujuan dari kegiatan ini kita bisa mengenal satu sama lain berbagi kisah, berbagi pengalaman pada malam ini tentang Aktivitas-aktivitas diorganisasi masing-masing. (edo)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *