Sabtu , Februari 29 2020
Home / Daerah / Tahun 2019, Desa Topoyo Salah Satu Desa Di Sulbar Masuk Kategori Desa Mandiri

Tahun 2019, Desa Topoyo Salah Satu Desa Di Sulbar Masuk Kategori Desa Mandiri

Nur Hamsah (Koordinator Provinsi Program Pembangunan dan Pemberdayaan Masyaralat Desa dan Program Inovasi Desa Prov. Sulbar

Mateng, 8enam.com.-Setelah masuk dalam kategori desa maju pada tahun 2018, Desa Topoyo Kecamatan Topoyo Kabupaten Mamuju Tengah (Mateng) menjadi salah satu desa di Provinsi Sulbar yang masuk kategori mandiri tahun 2019.

Koordinator Program Pembangunan dan Pemberdayaan Masyaralat Desa dan Program Inovasi Desa Provinsi Sulbar, Nur Hamsah saat ditemui usai pembukaan Bursa Inovasi Desa cluster II di Kecamatan Pangale, Rabu (7/8/2019) menuturkan, tahun 2018 Desa Topoyo masih kategori maju, tahun 2019 Desa Topoyo masuk dalam kategori Indikator Desa Mandiri (IDM).

“Tahun 2018 diundang secara khusus oleh Kemendes untuk menerima penghargaan sebagai desa maju, tahun 2019 kemungkinan akan diundang kembali untuk menerima penghargaan sebagai desa mandir. Karena di Provinsi Sulbar baru Desa Topoyo yang tercatat sebagai salah satu desa yang mandiri,” kata Nur Hamsah.

Hur Hamsah menjelaskan, ada tiga indikator desa itu dikatakan mandiri yaitu Epologi, Ekonomi dan indikator Sosial. Nah pemerintah Desa Topoyo ini sadar setelah membaca data-data yang ada di tahun 2018, yang mana masih dianggap kurang indikatornya, melalui dana desanya dia interpensi dengan kegiatan.

“Jadi seluruh indikator dari tiga indikator itu yang dianggap kurang, maka dinterpensi melalui dana desanya. Sehingga membuat Desa Topoyo masuk dalam kategori mandiri ditahun 2019,” tuturnya.

Dia berharap, dengan adanya dana desa yang tiap tahun meningkat, tentunya harus ada peningkatan di desa, jangan hanya jalan ditempat. Karena kalau hanya jalan ditempat terus, makan publik akan bertanya. Kalau statusnya menurun atau stagnan, lalu dana desa itu kemana?.

“Itu harapan kami, sehingga dalam proses penyusunan perencanaan selain hasik Bursa Inovasi Desa yang hari ini kita laksanakan, kemudian ada data-data konvergensi penanganan stunting, maka apa yang menjadi indikator IDMnya yang kurang, mohon kepada Pemerintah Desa melirik ini sebagai referensi dalam menyusun perencanaan kalau mau cepat ada akselerasi peningkatan dari status desanya,” ungkap Nur Hamsah.

“Mateng boleh baru, tapi desanya tidak boleh tertinggal. Karena kalau desanya maju, pasti kabipatenya akan ikut maju,” pungkasnya. (Ysn Hms/one/wan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *