Rabu , Oktober 27 2021
Home / Advetorial / Sutinah Sebut, Rembuk Stunting Memiliki Nilai Setrategis Dalam Upaya Penanganan Stunting di Mamuju

Sutinah Sebut, Rembuk Stunting Memiliki Nilai Setrategis Dalam Upaya Penanganan Stunting di Mamuju

Mamuju, 8enam.com.-Penanganan angka stunting (kerdil red) menjadi salah satu agenda program nasional dan menjadi perhatian khusus pada jajaran Pemerintah Kabupaten Mamuju.

Ini dibuktikan dengan kembali digelarnya Rembuk Stunting dan Kalakarya Kesehatan, yang menghadirkan sejumlah pemangku kepentingan tingkat daerah.

Bupati Mamuju Hj. Sitti Sutinah Suhardi yang membuka kegiatan di ballroom d’Maleo Hotel, Jumat (17/9/2021) menyampaikan, Rembuk Stunting memiliki nilai strategis dalam upaya penanganan stunting di Mamuju, yang telah masuk pada level akut kronik karena telah berada diatas 20 persen, melebihi standar yang telah ditetapkan WHO berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2018.

“Ini tentu bukanlah catatan yang menggembirakan, karena berbicara persoalan stunting tentu tidak dapat dipisahkan dari perkembangan anak-anak kita yang “notabene” adalah generasi pelanjut, yang diharapkan dapat meneruskan peradaban kita dimasa yang akan datang, dan ini sangatlah kontradiktif dari kata “keren” jika kita tidak mampu melakukan sesuatu untuk mengatasi dan mempersiapkan hal ini dengan baik,” ujar Sutinah.

Karenanya, melalui forum yang di teruskan dengan penandatanganan komitmen bersama, Bupati berharap keterlibatan semua stakeholder dapat lebih dioptimalkan agar penanganan stunting dapat terintegrasi dengan baik, sehingga mampu ditekan.

Kepala Bappepan Mamuju, Dr. Khatma Ahmad mengungkapkan, penanganan pravalensi stunting membutuhkan sinergi dan kolaborasi, antar semua stakeholders, tidak semata-mata hanya bertumpu pada tugas kesehatan saja, karena menanganinya memerlukan pendekatan berbagai bidang dan sektor yang harus saling mendukung.

“Kolaborasi dan Sinergi, kata ini selalu gampang di ucapkan, tapi ternyata sangat sulit diaplikasikan, sebab itu lewat kesempatan ini saya mengajak kita dapat berkomitmen membangun hal itu, agar target kita menurunkan angka stunting dapat kita wujudkan,” tegas Khatma.

Untuk diketahui, Stunting adalah masalah gizi kronis yang disebabkan oleh asupan gizi yang kurang dalam waktu lama, umumnya karena asupan makan yang tidak sesuai kebutuhan gizi. Stunting terjadi mulai dari dalam kandungan dan baru terlihat saat anak berusia dua tahun. (Diskominfosandi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *