Mamuju, 8enam.com.-Khazanah literasi sejarah di Sulawesi Barat kini semakin kaya. Penulis sekaligus pemerhati sejarah, Aco Fikram S, secara resmi menyerahkan karya tulisnya yang berjudul “Mamuju Dalam Arus Gerakan DI/TII 1953–1965” kepada Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Perpusip) Provinsi Sulawesi Barat, Kamis (07/05/2026).
Penyerahan buku ini merupakan bentuk kontribusi intelektual dalam mendokumentasikan dinamika sosial dan politik yang pernah terjadi di wilayah Mamuju pada periode pergolakan pascakemerdekaan.
Implementasi UU Serah Simpan Karya Cetak
Selain sebagai upaya pelestarian sejarah lokal, langkah ini merupakan wujud kepatuhan terhadap Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2018 tentang Serah Simpan Karya Cetak dan Karya Rekam. Regulasi ini mewajibkan setiap karya intelektual bangsa disimpan dan dilestarikan sebagai bagian dari kekayaan budaya nasional.
Langkah ini juga selaras dengan kebijakan Gubernur Sulawesi Barat, Suhardi Duka (SDK), yang menempatkan peningkatan budaya literasi dan pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM) sebagai fondasi utama kemajuan daerah.
Referensi Penting bagi Generasi Muda
Aco Fikram S menjelaskan bahwa buku tersebut disusun melalui proses pengumpulan sumber yang mendalam guna menghadirkan perspektif objektif mengenai masa-masa sulit gerakan DI/TII di tanah Mandar.
“Karya ini saya susun agar dapat menjadi referensi bagi masyarakat, mahasiswa, peneliti, maupun generasi muda. Penting bagi kita untuk memahami sejarah daerah sendiri agar bisa memetik pelajaran untuk masa depan,” ungkap Aco Fikram.
Apresiasi dari Dinas Perpusip
Pihak Dinas Perpusip Sulbar menyambut hangat kehadiran karya tersebut. Koleksi ini dinilai sangat berharga karena literasi spesifik mengenai sejarah lokal Mamuju pada era tersebut masih tergolong langka di rak-rak perpustakaan.
Dengan adanya buku ini di Dinas Perpusip, masyarakat kini memiliki akses lebih luas terhadap sumber bacaan sejarah yang kredibel dan edukatif. Hal ini diharapkan mampu memicu minat riset sejarah bagi para akademisi serta menumbuhkan rasa cinta tanah air bagi generasi penerus di Bumi Manakarra.
Editor: Ammar







