Sabtu , Juni 19 2021
Home / Opini / MEMUDARNYA SPIRIT NASIONALISME SEBAGAI NEGARA BANGSA

MEMUDARNYA SPIRIT NASIONALISME SEBAGAI NEGARA BANGSA


Oleh : Bayu Alfarizi, Sekertaris GMNI Cabang Mamuju.

“Berbeda Suara dengan Penguasa Bisa Di Celaka. Berbagai Ormas Terpecah Belah, Membuktikan Bahwa Jiwa dan Semangat Persatuan Memudar,”

Fokus7.com, Mamuju-Semangat persatuan dan kesatuan yang dimiliki bangsa Indonesia berdampak positif bagi kehidupan berbangsa dan bernegara. Dalam perjalan sejarahnya, bangsa bisa mengusir penjajah dari bumi persada karena semangat persatuan dan kesatuan.

Bangsa Indonesia bisa memerdekakan diri juga karena semangat persatuan dan kesatuan tersebut. Persatuan dan kesatuan Aadalah modal utama bagi bangsa Indonesia untuk menggapai keadilan dan kemakmuran secara merata.
Namun sungguh disayangkan bila semangat persatuan dan kesatuan yang kita miliki itu mulai memudar, Memudarnya semangat persatuan.

Semangat persatuan rakyat Indonesia mulai memudar. Itu sebuah kenyataan yang tak bisa kita pungkiri lagi. Pada saaat ini, sulit menemukan spirit persatuan pada jiwa rakyat Indonesia terkhusus pada pemuda dalam mewujudkan keadilan sosial bagi rakyat Indonesia. Padahal jiwa Nasionalisme itulah lahirnya semangat persatuan kesatuan.
Setelah era kerajaan berlalu, Indonesia mengalami masa penjajahan asing selama beratus-ratus tahun.

Belanda menjajah sekitar 350 tahun, selingi penjajahan bangsa Inggris dan portugis di berbagai wilayah Indonesia. Penjajahan di lanjutkan Jepang beberapa Tahun. Pada era penjajahan itu, Indonesia pernah mengalami satu fase sejarah yang di tandai dengan lahirnya sumpah pemuda, 28 otober 1928. Dimana para pemuda mengikrarkan dirinya dalam satu sumpah untuk persatuan dan kesatuan Indonesia, pada masa itulah para pemuda yang melakukan kongres pemuda memiliki jiwa nasionalisme yang kuat. Mereka memiliki semangat yang sama untuk berbangsa, bertanah air, dan berbahasa persatuan Indonesia. Mereka yang terdiri dari ragam suku, agama, dan berbagai perbedaan lain, menyatu dalam ikatan satu bangsa, satu tanah air, dan satu bahasa.

Jika kita berpikir sedikit mundur kebelakang melihat prasasti-prasasti sejarah terbentuknya sebuah Negara Bangsa(nation stage) yang bernama Indonesia, maka kita akan melihat bahwa Nasionalisme kini mengalami pergeseran yang cukup jauh. Dahulu di jaman Bung Karno, nasionalisme selalu identik pada persatuan nasional, semangat gotong royong, bahkan nasionalisme saat itu hadir sebagai antitesa imperialisme. sangat berbeda dengan kondisi saat ini, nasionalisme cenderung bergeser jauh dalam dunia politik, sosial, ekonomi dan kebudayaan.

Nasionalisme yang ada saat ini tidak lagi mengedepankan kemanusiaan, bahkan nasionalisme cenderung diplesetkan bahwa masyarakat Indonesia bersatu untuk merampok bangsanya sendiri. Semangat persatuan bangsa Indonesia yang dipelopori pemuda di era sumpah pemuda itu terus tertanam dalam jiwa.

Jiwa dan semangat persatuan membawa hasil gemilang dengan adanya proklamasi 17 agustus 1945 atas kehendak seluruh bangsa Indonesia. Bahkan persatuan yang terjalin dari berbagai unsur yang ada di lingkup Indonesia membuat para penjajah terpontang-panting meninggalkan bumi jajahanya. Para penjajah yang telah kenyang menjarah kekayaan dan kemerdekaan bangsa indonesia harus angkat kaki untuk selamanya akibat diusir rakyat Indonesia yang telah menyatu di bawah panji-panji merah putih.

Setelah masa kemerdekaan, kita memasuki orde lama, orde baru, dan orde Reformasi. nah, disini kita mengalami problem. Kita mengalami ironi yang sebenarnya sulit di terima akal sehat. Pada saat terjajah, kita, rakyat Indonesia bersatu padu mengusir penjajah. Setelah merdeka, tujuan utama kita adalah membangun Indonesia menuju keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia secara lahir dan batin. Kenyataanya, setelah merdeka jiwa dan semangat persatuan pelan-pelan malah berkurang, surut, memudar, dan bahkan suatu saat kita tidak waspada kecintaaan kita terhadap Indonesia bisa hilang sama sekali.

Memudarnya persatuan di kalangan bangsa Indonesia, bermula saat kemerdekaan. ada pihak-pihak yang tidak puas atas kepemimpinan pemerintah saat itu. Sehingga timbul pemberontakan di berbagai daerah di Indonesia. Hal ini mengingatkan kita pada saat kerajaan majapahit berdiri di bawah rajanya yang pertama, Raden Wijaya. Saat itu juga timbul pemberontakan oleh teman-teman seperjuangan Raden Wijaya yang merasa tidak puas atas kebijakanya.
Adanya pemberontakan di berbagai daerah di era Soekarno menghambat program pembangunan yang dilaksanakan presiden pertama Indonesia Itu. Aksi pemberontakan di berbgai daerah menunjukkan bahwa semangat persatuan mulai memudar. Apalagi ada kelompok-kelompok yang ingin memerdekakan diri, yang berarti memisahkan diri dari Negara kesatuan Republik Indonesia.

Kemampuan dan sumber daya pemerintah yang mestinya untuk membangun Indonesia setelah mengalami masa perang dan terjajah selama ratusan tahun terkuras untuk menghadapi kaum pemberontak. Bahkan para pemberontak yang cenderung mementingkan diri sendiri atau kelompoknya merasa bahwa mereka bukan bagian dari Indonesia lagi.
Di era Soekarno atau yang juga di sebut era Orde lama, ada dua rongrongan terhadap Indonesia, yaitu rongrongan dari dalam yang mengoyak persatan serta kesatuan Indonesia, juga dari bangsa asing yang ingin melakukan penjajahan lagi.

Akhirnya, pada era itu, Indonesia belum adil dan makmur. Bahkan, waktu itu Indonesia memiliki beban utang yang banyak. Orde lama berganti era Orde baru. Bagaimana jiwa dan semangat persatuan di era Orde Baru? Makin pudar. Bahkan pembangunan di segala bidang menggunakan dana pinjaman. Rakyat indonesia sebagai pembayar pajaklah dikekang, berbeda suara dengan penguasa bisa di celaka. Berbagai ormas terpecah belah, membuktikan bahwa jiwa dan semangat persatuan memudar.
Keruntuhan orde baru terjadi, lalu berganti dengan orde yang lebih baru yang dikenal dengan sebutan orde Reformasi. Meskipun penamaan ini belum jelas karena pada hakikatnya masa pasca orde baru adalah masa peralihan. Peralihan ke orde apa? Sejarahlah yang berbicara.

Kebebasan yang semula di kekang pada masa Orde baru, kini dilepa. Akibatnya, terjadilah zaman kebebasan. Kebebasan dalam hal informasi, berpendapat berorganisasi, dan banyak kebebasan yang muncul di era ini. Bahkan sampai bebasnya banyak masyarakat Indonesia melakukan segala hal sebebas-bebasnya, sehingga ada yang sampai luar batas. Tidak sedikit pula yang melanggar kebebasan orang lain. Kebebasan dalam bertindak dan berpendapat ini membawa sebagian masyarakat berbuat liar, seolah-olah tidak ada lagi aturan dan hukum yang wajib di taati, sehingga terciptalah perpeahan.

Pada masa Reformasi, persatuan makin memudar. Bahkan, bisa dikatakan semangat persatuan dan kesatuantelah hilang. Hilangnya semangat persatuan dan kesatuan tersebut ditandai dengan berbagai peristiwa dalam kehidupanh sehari-hari, seperti perkelahian antar pelajar, tawuran antar kampung, pertikaian antaragama, permusuhan antarormas, dan berbagai bentuk tindakan yang mengarah pada perpecahan bangsa.

Melemahnya semangat persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia disebabkan oleh menurunnya kesadaran masyarakat tentang Nilai-nilai Nasionalisme dan patriotisme. Kesadaran untuk hidup bersama dan berdampingan berbangsa dalam masyarakat multikompleks dan multikultural kian hilang. Semboyan “Bhineka Tunggal Ika” yang telah ada sejak zaman Majapahit makin terabaikan.

Maka dari itu, Di jaman Milenial ini mari kita tumbuhkan jiwa dan semangat Nasionalisme kita sebagai negara bangsa, seperti yang telah di lakukan para pendahulu kita sebelum itu semua menjadi kepingan-kepingan kelompok kecil.

@Arwin99.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *