Minggu , Desember 5 2021
Home / Daerah / Mamuju Menempati Urutan Ke-7 dari 73 kota Yang Mengalami Inflasi

Mamuju Menempati Urutan Ke-7 dari 73 kota Yang Mengalami Inflasi

Mamuju, 8enam.com.-Berdasarkan hasil Survei Harga Konsumen dari 90 kota di Indonesia pada bulan Februari 2020, menunjukkan bahwa 73 kota mengalami inflasi dan 17 kota mengalami deflasi.

lnflasi Tertinggi terjadi di Sintang sebesar 1,21 persen dengan IHK 109,73 dan terendah di Pare-Pare sebesar 0,02 persen dengan IHK 103,82. Sedangkan deflasi tertinggi terjadi di Tanjung Pandan sebesar 1,20 persen dan terendah di Padangsidimpuan sebesar 0,01 persen.

Hal itu berdasarkan Pers Release yang di laksanakan badan pusat statistik (BPS) Prov Sulbar yang berlangsung di aula kantor BPS Sulbar Mamuju, Senin (2/3/2020).

Perkembangan Indeks harga konsumen inflasi tersebut di paparkan langsung oleh kepala BPS Sulbar Win Rizal.

“Mamuju Menempati urutan ke-7 dari 73 kota yang mengalami inflasi,” kata Win Rizal.

Inflasi di Mamuju pada Februari 2020 lanjut Win Rizal, terjadi karena adanya kenaikan harga yang ditunjukkan oleh naiknya sebagian besar indeks kelompok pengeluaran yaitu kelompok makanan, minuman, dan tembakau 1,88 persen, pakaian dan alas kaki 0,26 persen, perlengkapan, peralatan, dan pemeliharaan rutin rumah tangga 0,38 persen, rekreasi, olahraga, dan budaya 1,80 persen; penyediaan makanan dan minuman/restoran 2,35 persen dan kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya 1,43 persen.

“Tingkat perubahan indeks tahun kalender Februari 2020 di Mamuju adalah inflasi 0,78 persen dan tingkat perubahan indeks tahun ke tahun (Februari 2020 terhadap Februari 2019) adalah inflasi 2,79 persen,” ungkapnya.

Selain itu kepala BPS Sulbar juga paparkan luas panen dan produksi padi di provinsi sulawesi barat 2019 hasil survei kerangka sampel area.

“Luas panen padi di Provinsi Sulawesi Barat pada 2019 diperkirakan sebesar 62,58 ribu hektar atau mengalami penurunan sebanyak 2,72 ribu hektar atau 4,17 persen dibandingkan tahun 2018. Produksi padi di Provinsi Sulawesi Barat pada 2019 diperkirakan sebesar 300,14 ribu ton GKG atau mengalami penurunan sebanyak 16,33 ribu ton atau 5,16 persen dibandingkan tahun 2018,” bebernya.

“Jika produksi padi pada tahun 2019 dikonversikan menjadi beras untuk konsumsi pangan penduduk, produksi beras di Provinsi Sulawesi Barat pada 2019 sebesar 171,49 ribu ton atau mengalami penurunan sebanyak 9,33 ribu ton atau 5,16 persen dibandingkan tahun 2018,” pungkasnya. (edo)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *