Senin , Juni 21 2021
Home / Opini / Berpendidikan Tinggi Belum Tentu Telah Terdidik

Berpendidikan Tinggi Belum Tentu Telah Terdidik

Fatimah Zahrani, S.S Alumni sastra Inggris Unhas Makassar

PENDIDIKAN merupakan bekal yang paling utama dalam sebuah kehidupan setiap orang. Yang mana dengan pendidikan seseorang mampu membedakan mana yang baik dan buruk, dan mana yang boleh dilakukan dan tidak. Akan tetapi saat ini kondisi pendidikan sangat memprihatinkan, pendidikan hanya menghasilkan orang pintar bukan orang yang terdidik.

Munculnya berbagai masalah kriminal dalam masyarakat adalah akibat dari tindakan oleh orang-orang yang belum terdidik. Tingginya pendidikan warga Negara Indonesia tetap saja masih munculnya berbagai masalah. Seperti, korupsi, kolusi , dan nepotisme. Mengapa terjadi seperti itu?

Menyelesaikan suatu jenjang pendidikan berarti telah mendapatkan pengetahuan, baik dalam bidang akademik maupun budi pekerti seperti, memiliki akhlak yang mulia, adanya rasa tanggung jawab untuk bangsa dan menjadi warga Negara yang demokratis sesuai dengan tujuan suatu pendidikan di Indonesia yang dikehendaki oleh pembukaan UUD 1945 dan isi UUD 1945. Dalam hal tersebut jika tidak adanya pengaplikasian atau sifat yang tercermin dari seseorang yang telah menjalani suatu pendidikan dapat dikatakan belum terdidik.

Menurut Gus Mus, salah seorang pendeklarasi Partai Kebangkitan Bangsa dan sekaligus perancang logo PKB yang digunakan hingga kini, sejak orde baru ia tidak melihat di sekolah-sekolah. Kecuali taman kanak-kanak apa yang disebut pendidikan.

Gus Mus mengatakan, jangan heran sekarang banyak oang pintar, tetapi tidak terdidik. Bagaimana mau mengatakan orang itu terdidik klau ia menduduki puncak kedudukan paling mulia, paling bermartabat, dan di tangkap KPK.

Gus Mus mengungkapkan, orang pandai atau pintar kalau tidak terdidik akan sangat menjengkelkan. Kalau orang pintar yang mencuri, menangkapnya sulit. Sudah tertangkap, mengadilinya sulit, divonis masuk penjara sulit, dan klau sudah masuk penjara masih bisa keluyuran.

Sehingga dapat disimpulkan bahwa sistem pendidikian yang diaplikasikan di Indonesia lebih menitik beratkan bidang keilmuan dan teknologi saja yang menghasilkan orang-orang pintar. Disisi lain, yang menjadi hal penting dalam menuntut ilmu yaitu pendidikan budi pekerti yang tidak diajarkan. Sehingga seorang yang bergelar doktor atau bahkan professor sekalipun, nyatanya belum tentu mampu mengubah kelakuan mereka sesuai dengan tujuan dari pendidikan itu sendiri.

Sekolah tinggi di Indonesia telah berhasil menghasilkan orang-orang pintar namun tidak semuanya terdidik. Seperti  masih banyaknya penjahat yang bergelar sarjana bahkan professor yang harus mendekam di penjara akibat korupsi.

Seperti baru-baru ini ada salah satu pejabat pemerintah provinsi, dia memiliki riwayat pendidikan yang dapat dikatakan membanggakan bahkan telah mengambil gelar profesornya. Selain itu dia juga memiliki penghargaan-penghargaan dan prestasi yang cukup baik. Tetapi siapa sangka sekarang dia telah mendekam di penjara akibat korupsi biaya infrastruktur dan perisinan untuk didaerah jabatannya.

Terjadinya hal seperti ini karena tidak adanya rasa tanggung jawab kepada bangsanya sendiri. Dia tak berfikir panjang lagi dalam mempertanggung jawabkan jabatanya dan hanya mementingkan keuntungan untuk dirinya sendiri. Inilah fenomena menyedihkan yang saat ini berlangsung di Indonesia dimana  banyak pemimpin dan pejabat yang diluar terlihat taat beragama dan berpendidikan justru melakukan kejahatan seperti korupsi.

Fungsi pendidikan bukan hanya menciptakan orang yang pandai akan tetapi harus menciptakan orang yang terdidik. Bukan hanya kasusu diatas yang merusak citra pendidikan Indonesia masih ada banyak kasus-kasus lainnya tetapi korupsi adalah kasus yang paling banyak dan sangat merugikan Negara. Maka tidak heran korupsi yang terjadi dilakukan oleh orang-orang yang berpendidikan, orang-orang yang bergelar, orang-orang yang sebenarnya memahami bahwa korupsi adalah hal yang tidak boleh dilakukan.

Alhasil mungkin Indonesia adalah satu-satunya negara yang tidak mempermasalahkan seorang koruptor dijadikan sebagai pemimpin instansi. Bahkan ini adalah hal yang memalukan untuk semua pihak, dan tidak mememberikan kesempatan bagi sesorang yang benar-benar terdidik di negeri ini.

Untuk itu sistem pendidikan Indonesia seharusnya menyeimbangkan pendidikan akademik dan juga budi pekerti sehingga menghasilkan orang-orang yang benar-benar terdidik. Dengan adanya pendidikan budi pekerti atau karakter akan dapat menempatkan diri seseorang dengan baik di masyarakat sehingga memiliki kesadaran akan tanggung jawabnya sebagai warga negara.

Kesimpulannya, untuk perkembangan yang lebih baik melahirkan oaring-orang pintar dalam pendidikan adalah penting. Yang lebih penting adalah mereka juga harus terdidik yaitu dalam artian tedidik untuk tidak korupsi, terdidik untuk taat pada aturan hokum dan aturan tuhan, dan berpikir bahwa pada akhirnya semua akan dimintai pertanggung jawabanya dihadapan Allah subhanahu wa ta’ala. (**)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *