Example 300250
DaerahMajeneSosial Budaya

Tunggangi Kuda Sayyang Pattu’du, Raja Mamuju Wakili Gubernur SDK Hadiri Ritual Sakral di Sendana Majene

×

Tunggangi Kuda Sayyang Pattu’du, Raja Mamuju Wakili Gubernur SDK Hadiri Ritual Sakral di Sendana Majene

Sebarkan artikel ini

Majene, 8enam.com.-Lapangan Adat Limboro Rambu-Rambu di Kecamatan Sendana, Kabupaten Majene, mendadak dipadati ratusan warga pada Minggu (21/6/2026). Mereka berkumpul untuk saksi mata dari prosesi sakral puncak Upacara Adat Pattera’ Pappuangan Adat Limboro Rambu-Rambu.

​Gubernur Sulawesi Barat, Suhardi Duka (SDK), mengutus Kepala Dinas Kepemudaan, Olahraga, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif (Dispoparekraf) Sulbar, Bau Akram Dai, untuk hadir langsung di tengah-tengah masyarakat adat Sendana.

​Menariknya, Bau Akram Dai yang juga memegang status sebagai Raja Mamuju, disambut dengan karpet merah kebudayaan Mandar. Ia diarak menuju lokasi upacara dengan menunggangi Sayyang Pattu’du (kuda menari khas Mandar)—sebuah simbol penghormatan tertinggi bagi para pemimpin dan tamu agung.

Pelantikan Pemimpin Adat Baru di Tengah Arus Modernisasi

​Ritual adat yang berlangsung maraton selama tiga hari berturut-turut ini mencapai puncaknya pada prosesi pelantikan pemimpin adat yang baru. Di tengah hantaman teknologi dan budaya luar, upacara ini menjadi bukti benteng pertahanan kearifan lokal di Majene masih berdiri kokoh.

​Sejumlah elite daerah turut larut dalam kekhidmatan acara, di antaranya:

    • Ardiansyah (Sekretaris Daerah Kabupaten Majene)
    • Syarifuddin (Anggota DPRD Kabupaten Majene)
    • Ahmad Djamaan (Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Majene)
    • ​Para tokoh adat, tokoh agama, serta ratusan masyarakat setempat.

​”Masyarakat yang menjaga adat istiadatnya akan memiliki arah, karakter, dan martabat yang kuat dalam menghadapi perubahan zaman,” tegas Bau Akram Dai saat menyampaikan petuah budaya.

Budaya Sebagai Mesin Penggerak Ekonomi Daerah

​Berbicara sebagai Kepala Dispoparekraf sekaligus representasi Gubernur, Bau Akram Dai menekankan bahwa Pemprov Sulbar tidak pernah memandang sebelah mata urusan adat dan kebudayaan. Di bawah kepemimpinan Gubernur Suhardi Duka, budaya diposisikan sebagai investasi masa depan.

​Ada tiga poin penting mengapa kelestarian adat Mandar diprioritaskan:

      • Modal Sosial & Persatuan: Menjadi perekat hubungan antarwarga agar tidak mudah terpecah belah.
      • Pemicu Ekonomi Kreatif: Ritual budaya berskala besar seperti ini berpotensi menarik wisatawan dan menghidupkan UMKM lokal.
      • Karakter Generasi Muda: Membentuk mental pemuda Sulbar yang modern namun tetap mengakar pada jati diri leluhur.

​”Pemprov Sulbar memandang adat dan budaya sebagai fondasi pembangunan. Budaya bukan hanya warisan yang harus kita lestarikan, tetapi juga kekuatan yang mampu menggerakkan ekonomi,” tambahnya.

​Melalui suksesnya ritual Pattera’ Pappuangan ini, Pemprov Sulbar melempar sinyal ajakan kepada seluruh lembaga adat dan generasi muda di Majene untuk terus merawat sinergi. Pemerintah berharap warisan turun-temurun ini tidak punah dan tetap menjadi aset kebanggaan bagi pariwisata Sulawesi Barat ke depan. (Rls)

Editor : Ammar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *