Example 300250
DaerahMamuju

Antisipasi Bencana Ekstrem, DLHK Sulbar ‘Suntik’ Kesadaran Lingkungan Pelajar Mamuju Lewat Sekolah Lapang Iklim

×

Antisipasi Bencana Ekstrem, DLHK Sulbar ‘Suntik’ Kesadaran Lingkungan Pelajar Mamuju Lewat Sekolah Lapang Iklim

Sebarkan artikel ini

Mamuju, 8enam.com.-Dampak nyata perubahan iklim global seperti cuaca ekstrem, banjir, hingga tanah longsor yang kian marak menuntut kesiapsiagaan dari seluruh lapisan masyarakat, tak terkecuali generasi muda. Merespons tantangan tersebut, Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Provinsi Sulawesi Barat (Sulbar) bergerak taktis menggelar program inovatif Sekolah Lapang Iklim 2026.

​Menggandeng Yayasan Sulawesi Cipta Forum, DLHK Sulbar memanfaatkan alokasi dana strategis RBP REDD+ Output 2 untuk menggembleng para pelajar di SMP-SMA IT Wildan Mamuju, selama dua hari penuh pada 20–21 Mei 2026.

​Agenda ini dibuka secara resmi oleh Kepala DLHK Sulbar, Zulkifli Manggazali. Program berbasis lingkungan ini berjalan tegak lurus dengan visi Gubernur Sulawesi Barat, Suhardi Duka (SDK), dalam mendorong pembangunan daerah yang berkelanjutan serta mencetak SDM yang adaptif terhadap tantangan kebencanaan.

​“Setiap hari kita disuguhi berita bencana alam di berbagai daerah, mulai dari banjir bandang hingga hujan ekstrem. Kondisi ini tidak terjadi begitu saja, melainkan dipicu oleh perubahan iklim global. Karena itu, mitigasi dan adaptasi harus kita perkuat, salah satunya melalui edukasi sejak dini di bangku sekolah,” tegas Zulkifli Manggazali saat menyematkan ID card peserta secara simbolis.

​Kurikulum Lapangan: Bukan Sekadar Teori, Siswa Diajak Praktik Pilah Sampah

​Zulkifli menjelaskan, Sekolah Lapang Iklim ini didesain secara interaktif dan sengaja menyasar berbagai lokasi Program Komunitas Untuk Iklim (ProKlim) di wilayah Kabupaten Mamuju dan Majene.

​Tujuannya adalah mengikis kejenuhan belajar teori di dalam kelas dengan mengajak para siswa turun langsung ke lapangan. Di sana, mereka diajarkan membaca perubahan cuaca hingga melakukan pengelolaan limbah domestik secara mandiri.

​“Melalui kegiatan ini, para siswa tidak hanya mendengarkan ceramah. Mereka dibimbing langsung oleh narasumber ahli untuk melakukan praktik pemilahan sampah, memahami pola mitigasi kebencanaan, serta membangun budaya tanggap iklim dalam kehidupan sehari-hari,” tambah Zulkifli.

​Investasi Jangka Panjang untuk Bumi Manakarra

​Langkah progresif dinas lingkungan hidup ini mendapat apresiasi tinggi dari pihak ekosistem pendidikan. Ketua Yayasan Pesantren Wahdah Islamiyah, Ustadz Amiruddin, menilai program ini merupakan bentuk investasi jangka panjang yang sangat berharga untuk masa depan anak didik mereka.

​“Kami sangat mendukung. Ini bukan sekadar pelatihan musiman, tetapi upaya nyata membangun fondasi karakter generasi baru yang sadar iklim. Kami berharap para santri dan pelajar bisa menyerap ilmu praktis ini untuk kemudian menjadi agen perubahan di lingkungan keluarga masing-masing,” ungkap Ustadz Amiruddin optimis.

​Sebagai informasi, dalam forum edukasi ini para pelajar digembleng oleh pemateri berkompeten di bidangnya, antara lain:

  • Alexander Bontong (Kepala Bidang PSLB3 dan PPKL DLHK Sulbar), yang mengupas tuntas pengenalan siklus cuaca serta teknik pemilahan sampah organik dan anorganik.
  • Syukriah (Pakar Lingkungan), yang memimpin simulasi taktis terkait adaptasi perubahan iklim dan kesiapsiagaan menghadapi bencana alam.

​Melalui Sekolah Lapang Iklim 2026, Pemprov Sulbar berharap embrio kepedulian lingkungan ini terus meluas ke sekolah-sekolah lain, sekaligus melahirkan generasi muda yang tangguh, tangkas, dan aktif menjaga kelestarian alam di Bumi Manakarra.

Editor: Ammar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *