Mamuju, 8enam.com.-Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat, kini resmi berada di bawah radar industri strategis internasional berkat kandungan Rare Earth Element (REE) atau Logam Tanah Jarang (LTJ) yang melimpah. Meski menjadi incaran dunia, komoditas masa depan ini dipastikan belum akan dieksploitasi dalam waktu dekat.
Hal tersebut ditegaskan oleh Gubernur Sulawesi Barat, Suhardi Duka (SDK), usai memenuhi panggilan rapat strategis bersama Badan Industri Mineral (BIM), PT Perminas, dan Danantara di Jakarta, pertengahan Mei lalu.
Gubernur SDK meminta masyarakat untuk tidak berspekulasi berlebihan dan memahami bahwa proyek raksasa ini masih membutuhkan napas panjang.
“Masyarakat jangan beranggapan eksploitasi dan hilirisasi LTJ di Mamuju akan berjalan dalam waktu dekat. Nuansanya saat ini masih riset dan eksplorasi awal. Pengembangan LTJ di Mamuju kemungkinan besar masih membutuhkan waktu 10 hingga 20 tahun ke depan,” ungkap SDK, Rabu (20/05/2026).
Komponen Rudal hingga Mobil Listrik, Tapi Teknologi Masih Dikuasai Tiongkok
Gubernur SDK menjelaskan, LTJ merupakan harta karun dengan nilai geopolitik luar biasa tinggi. Komoditas ini merupakan bahan baku mutlak untuk industri teknologi tinggi, mulai dari baterai kendaraan listrik, jet tempur, hingga sistem pemandu peluru kendali (rudal).
Presiden RI sendiri menargetkan Indonesia harus menjadi pemain utama hilirisasi LTJ dengan membentuk PT Perminas dan menunjuk Danantara sebagai pengelola. Namun, batu sandungan terbesar saat ini adalah urusan penguasaan teknologi.
“Teknologi pengolahan LTJ itu sangat rumit dan saat ini mayoritas masih dikuasai oleh Cina (Tiongkok). Indonesia belum punya teknologi itu, bahkan negara sekelas Amerika Serikat pun masih bergantung ke Cina,” urai SDK gamblang.
Saat ini, kampus-kampus top dalam negeri seperti Institut Teknologi Bandung (ITB) dan Universitas Indonesia (UI) baru berhasil melakukan ekstrasi teknologi pengolahan LTJ dalam skala laboratorium.
Baru Teliti 10 Hektare dari 8 Blok Potensial
Lebih lanjut, SDK memaparkan bahwa pemetaan riil di lapangan masih sangat dini. Dari total delapan blok kawasan yang terdeteksi memiliki potensi kandungan logam tanah jarang di Mamuju, aktivitas yang berjalan baru menyentuh area seluas 10 hektare.
“Yang berjalan sekarang baru penelitian di area sekitar 10 hektare untuk diuji coba pengembangannya secara bertahap,” tambahnya.
Menutup keterangannya, politisi senior ini mengunci komitmen bahwa Pemprov Sulbar tidak akan gegabah. Tata kelola investasi masa depan ini wajib menomorsatukan keselamatan lingkungan, tameng sosial masyarakat adat, serta serapan tenaga kerja lokal.
“Pengembangan industri LTJ wajib memperhatikan keselamatan lingkungan dan masyarakat secara menyeluruh. Kita ingin hilirisasi ini nantinya benar-benar menjadi mesin penggerak untuk mengentaskan kemiskinan dan mendongkrak ekonomi Sulawesi Barat secara inklusif,” pungkas SDK.
Editor: Ammar







