Example 300250
DaerahMamuju TengahPendidikan

Refleksi Hardiknas 2026 : Politisi Muda PKB Mateng Tegaskan Kesejahteraan, Distribusi, dan Akses Pelosok Adalah Kunci Mutu Pendidikan

×

Refleksi Hardiknas 2026 : Politisi Muda PKB Mateng Tegaskan Kesejahteraan, Distribusi, dan Akses Pelosok Adalah Kunci Mutu Pendidikan

Sebarkan artikel ini

Mateng, 8enam.com.-Memperingati Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas), Sabtu (02/05/2026), jajaran politisi muda Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Kabupaten Mamuju Tengah (Mateng) menyampaikan refleksi mendalam mengenai rapor pendidikan di Bumi Lallatasisara.

Mereka menegaskan bahwa kualitas pendidikan tidak akan pernah merata selama persoalan kesejahteraan guru, ketimpangan distribusi tenaga pendidik, dan sulitnya akses di pelosok belum tuntas teratasi.

​Sebagai representasi kaum muda yang progresif, PKB Mateng memandang bahwa transformasi digital dan kurikulum baru hanya akan menjadi narasi kosong jika fundamental pendidikan di lapangan masih mengalami ketimpangan.

Menolak Ketimpangan Pendidikan di Pelosok

​Politisi muda PKB Mateng, Muh. Rizal menyoroti fenomena penumpukan tenaga pendidik di wilayah perkotaan, sementara sekolah-sekolah di wilayah pedalaman seringkali mengalami krisis guru tetap.

“Selamat Hari Pendidikan Nasional 2026. Refleksi kritis kami adalah mutu pendidikan tidak boleh hanya dirasakan di pusat kota. Kuncinya ada tiga: sejahterakan gurunya, ratakan distribusinya, dan buka akses seluas-luasnya di pelosok. Tanpa itu, keadilan pendidikan bagi anak-anak Mateng hanya menjadi slogan,” tegas Muh. Rizal, politisi muda PKB Mateng yang juga wakil ketua komisi 2 DPRD Mateng.

Poin Strategis Refleksi PKB Mateng:

  • Pemerataan Distribusi Guru: PKB mendesak Pemerintah Daerah untuk melakukan evaluasi total terhadap penempatan guru. Mereka mendorong adanya regulasi yang mewajibkan distribusi guru yang proporsional agar sekolah di pelosok tidak lagi didominasi oleh tenaga sukarela semata.
  • Kesejahteraan Sebagai Motivasi: Guru yang bertugas di wilayah terpencil harus mendapatkan insentif khusus yang signifikan. Kesejahteraan bukan hanya soal gaji, tetapi juga apresiasi atas pengabdian mereka di medan yang sulit.
  • Pemerataan Akses & Fasilitas: PKB menyoroti gedung sekolah yang rusak dan minimnya fasilitas penunjang di desa-desa terpencil. Mereka meminta pemutakhiran data sarana prasarana agar anggaran rehabilitasi sekolah tepat sasaran dan tidak hanya berputar di wilayah yang mudah dijangkau.
  • Literasi Digital di Wilayah Blank Spot: Pemerataan akses pendidikan juga berarti pemerataan akses informasi. PKB mendorong percepatan penyediaan jaringan internet dan perangkat digital untuk sekolah-sekolah di pelosok agar siswa desa memiliki daya saing yang sama dengan siswa kota.

Komitmen Kawal Pendidikan Inklusif

​Melalui kader-kader mudanya di parlemen, PKB Mateng berkomitmen untuk terus menyuarakan kebijakan yang berpihak pada keadilan sosial di sektor pendidikan. Mereka menginginkan Hardiknas 2026 menjadi titik balik pembangunan pendidikan yang “tidak meninggalkan siapa pun” (leave no one behind).

“Kita ingin melihat anak-anak di pelosok Mateng memiliki guru yang kompeten, buku yang lengkap, dan fasilitas yang layak. Itulah esensi kemerdekaan belajar yang sesungguhnya. PKB akan berdiri paling depan untuk memastikan hak pendidikan anak-anak di pelosok terpenuhi,” pungkaa Rizal.

​Pernyataan ini diharapkan menjadi pengingat bagi seluruh pemangku kepentingan bahwa kemajuan Mamuju Tengah di masa depan sangat bergantung pada seberapa adil kita mengelola pendidikan hari ini.

Editor: Ammar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *