Mamasa, 8enam.com.-Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DKPPKB) Provinsi Sulawesi Barat menerjunkan tim ahli untuk memperkuat kapasitas kader Posyandu di Kabupaten Mamasa. Kegiatan yang fokus pada penguasaan 25 keterampilan dasar ini berlangsung selama dua hari, 27–28 April 2026, di Hotel Sajojo, Mamasa.
Langkah ini merupakan bagian dari implementasi Panca Daya ke-3—pembangunan SDM unggul dan berkarakter—yang menjadi pilar visi Gubernur Sulawesi Barat, Suhardi Duka (SDK), dalam mewujudkan masyarakat yang maju dan sejahtera.
Ujung Tombak Pelayanan Kesehatan Desa
Sebanyak 84 kader dari 12 desa lokus Program PASTI PADU mengikuti pelatihan intensif ini. Mamasa menjadi kabupaten ketiga setelah Majene dan Polewali Mandar yang mendapatkan penguatan serupa sebagai upaya standarisasi pelayanan kesehatan berbasis masyarakat di seluruh wilayah Sulbar.
Narasumber dari DKPPKB Sulbar, Wawan Iskandar dan Adryani Sirandan, memberikan materi strategis mengenai:
- Edukasi Kesehatan: Teknik komunikasi efektif untuk mengajak masyarakat hidup sehat.
- Perubahan Perilaku: Strategi mendorong penerapan Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS).
- Layanan Terintegrasi: Memastikan Posyandu mampu melayani siklus hidup mulai dari ibu hamil, bayi, hingga lansia.
Mendorong Kemandirian Masyarakat
Secara terpisah, Kepala DKPPKB Sulbar, dr. Nursyamsi Rahim, menegaskan bahwa kader Posyandu adalah kunci suksesnya transformasi pelayanan kesehatan primer di tingkat desa dan kelurahan.
“Kader Posyandu memiliki peran strategis. Melalui pelatihan ini, kita ingin memastikan mereka tidak hanya cakap secara teknis, tetapi juga mampu menjadi penggerak perubahan perilaku di lingkungan masing-masing. Jika kadernya kompeten, derajat kesehatan masyarakat akan meningkat secara menyeluruh,” jelas dr. Nursyamsi.
Sinergi Lintas Sektor
Kegiatan ini terlaksana berkat kolaborasi erat dengan Dinas Sosial, P3A, dan PMD Provinsi Sulawesi Barat. Sinergi ini menunjukkan komitmen kolektif pemerintah provinsi dalam memastikan pelayanan kesehatan dasar tidak hanya tersedia, tetapi juga berkualitas dan mudah diakses oleh warga di daerah pegunungan seperti Mamasa.
Dengan peningkatan kompetensi ini, para kader diharapkan dapat lebih percaya diri dalam melakukan deteksi dini masalah kesehatan serta memberikan edukasi yang tepat sasaran, guna menekan angka stunting dan meningkatkan kesehatan ibu dan anak di Bumi Kondosapata.
Editor: Ammar







