Minggu , Juni 20 2021
Home / Opini / Pertama Kalinya Ekonomi Sulawesi Barat Terkontraksi

Pertama Kalinya Ekonomi Sulawesi Barat Terkontraksi

Oleh : (Dwi Ardian, S.Tr.Stat., S.E., Statistisi di BPS Kabupaten Mamasa)

Opini.-Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sulawesi Barat telah mengumumkan bahwa pertumbuhan ekonomi Sulbar mengalami kontraksi sebesar 2,42 persen pada tahun 2020 secara kumulatif terhadap tahun 2019. Rilis data tersebut disampaikan oleh Kepala BPS, Agus Gede Hendrayana Hermawan, S.E., M.Si. secara langsung melalui media sosial resmi BPS Provinsi Sulbar pada Jumat (5/2/2021) siang.

Acara rilis data terlihat sangat terbatas dengan latar belakang pohon-pohon yang memang sampai saat ini para pegawai masih mendirikan tenda di luar kantor untuk tetap melaksanakan rutinitas pekerjaannya. Meski sangat terbatas, tidak mengurangi sedikit pun poin-poin rilis data yang disampaikan dan sesuai jadwal yang telah ditentukan secara nasional. Jajaran BPS Sulbar tetap mengutamakan memberikan data yang berkualitas di tengah mereka juga terdampak bencana alam gempa.

Data pertumbuhan ekonomi yang disampaikan pun tidak terlalu mengenakkan karena untuk pertama kalinya ekonomi Sulbar tumbuh minus. Mungkin tidak akan memuaskan bagi pemerintah tetapi harus tetap disampaikan sebagai bahan evaluasi. Memang sejak beberapa kuartal terakhir pertumbuhan ekonomi mengalami kontraksi akibat pandemi Covid-19 yang tidak melanda Sulbar saja, tetapi juga Indonesia, bahkan seluruh dunia.

Pertumbuhan ekonomi Indonesia sendiri juga mengalami kontraksi dengan pertumbuhan sebesar -2,07 persen. Hampir semua daerah mengalami kontraksi, kecuali beberapa daerah saja yang masih bisa tumbuh sedikit positif, seperti Maluku, Sulawesi Tengah, dan Papua. Sedangkan ekonomi Sulbar merupakan dengan kontraksi tertinggi.

Penyebab Kontraksi

Kita mengetahui bahwa penyebab umum ekonomi Sulbar mengalami kontraksi adalah pandemi Covid-19. Kita juga perlu mengetahui apa saja dari aktivitas perekonomian yang mengalami kelesuan yang parah. Dari sisi produksi, kontraksi terdalam terjadi pada lapangan usaha konstruksi sebesar 13,31 persen. Dari sisi pengeluaran kontraksi terdalam terjadi pada komponen impor yakni sebesar 14,91 persen.

Lapangan usaha sektor konstruksi sangat dalam karena memang ada instruksi untuk membelanjakan anggaran untuk infrastruktur ke sektor bantuan sosial untuk meningkatkan konsumsi masyarakat. Sebenarnya awal tahun ada kesepatan untuk menggunakan anggaran pembangunan infrastruktur tetapi belum sempat dimanfaatkan dengan baik, instruksi sudah keluar. Daerah lain yang bergerak lebih cepat masih bisa menikmati pertumbuhannya dengan lebih baik dari pada Sulbar.

Lapangan usaha administrasi pemerintahan, pertahanan, dan jaminan sosial wajib adalah yang terkontraksi terbesar selanjutnya, 8,61 persen dan lapangan usaha penyediaan akomodasi dan makan minum sebesar 7,19 persen. Kalau diperhatikan memang pembatasan yang ada serta penghematan anggaran yang dialihkan akan sangat berpengaruh terhadap lapangan usaha ini. Tidak heran jika mengalami kontraksi cukup dalam juga.

Distribusi produk domestik bruto (PDRB) Sulbar sendiri masih didominasi oleh pertanian sebesar 42,57 persen, disusul perdagangan (10,19 persen) dan industri (9,83 persen), kemudian administrasi pemerintahan (7,73 persen) serta konstruksi sebesar 7,30 persen. Hal ini yang mengakibatkan jika sektor-sektor tersebut mengalami perlambatan pertumbuhan atau bahkan kontraksi akan berakibat besar pada perekonomian secara umum. Lapangan usaha pertanian sendiri masih tetap menggeliat dan tumbuh sebesar 0,21 persen.

Sedangkan jika dilihat menurut pengeluaran, pertumbuhan PDRB Sulbar yang berkontraksi sangat dipengaruhi oleh impor barang dan jasa. Ada pun konsumsi rumah tangga sudah mulai menggeliat dengan kontribusi pertumbuhan positif 0,26 persen.

Sebenarnya jika dibandingkan dengan triwulan sebelumnya, pertumbuhan ekonomi pada triwulan IV ini sudah mulai membaik dengan pertumbuhan sebesar positif 1,69 persen. Sayangnya, pertumbuhan dua triwulan terakhir belum bisa menggenjot pertumbuhan secara kumulatif di tahun 2020.

Hal ini berarti bahwa program-program yang dilakukan pemerintah saat ini untuk menanggulangi dampak pandemi cukup berperan. Usaha mikro kecil harus terus disuntik untuk merangsang mereka agar tetap bisa berdaya. Bantuan sosial harus terus didukung, tentunya disertai dengan data termutakhir dan berkualitas. Semakin tepat sasaran bantuan tersebut disalurkan maka akan semakin menumbuhkan konsumsi kelas menengah ke bawah. Konsumsi yang meningkat akan menambah kontribusi pertumbuhan ekonomi.

Hal lain yang perlu diperhatikan adalah lapangan usaha konstruksi dan konsumsi administrasi pemerintahan. Tidak ada salahnya tetap melakukan berbagai pembangunan, utamanya infrastruktur dasar seperti kesehatan dan pendidikan tetapi dengan banyak memberdayakan masyarakat menengah ke bawah.

Yang paling utama adalah kita kembali melihat bahwa ketidaknormalan yang terjadi karena pandemi Covid-19. Kita harus satu komando bersama melawannya dengan taat pada protokol kesehatan. Mari kita lebih banyak diam dalam masalah Covid-19 ini daripada banyak bicara tidak berdasar yang menjurus kepada hoaks. Serahkan kepada pemerintah yang melibatkan banyak orang pintar. Mereka tidak sempurna tetapi jangan tambah kekurangan yang ada pada mereka dengan kebodohan yang kita buat.

Rahmat dari Tuhan Yang Mahakuasa akan turun jika kita senantiasa bertakwa. Bertakwa dari perbuatan dosa dan maksiat, termasuk menjauhkan diri dari sikap tidak amanah dalam melaksanakan tugas. Sikap bertakwa sebagai rakyat adalah menaati penguasa dalam hal makruf.

Mari kita senantiasa merenung dan memikirkan bahwa setiap bencana dan wabah yang diturunkan kepada kita tentu menyimpan hikmah yang besar. Agar kita tidak terlalu larut dalam kelalaian dan dosa. Agar kita kembali melakukan ketaatan. Jika teguran yang datang tidak membuat kita sadar, alangkah meruginya kita. (*)

Berikut Biodata Dwi Ardian

Nama : Dwi Ardian, S.Tr.Stat., S.E.

Tempat/Tanggal Lahir : Polewali Mandar, 19 November 1988

Pendidikan :

1. Pernah Kuliah di UIN Alauddin Makassar Fakultas Tarbiyah

2. S1 Ekonomi Pembangunan UT

3. DIV Statistika STIS Jakarta

4. Mahasiswa Pascasarjana Manajemen di UT

Pekerjaan : ASN, Statistisi di BPS Kabupaten Mamasa, Provinsi Sulawesi Barat

Alamat : Beru-Beru Desa Ongko Kecamatan Campalagian, Polewali Mandar 91353, Sulawesi Barat

No Hp/WA : 085255136252
Email : dwiardian48@gmail.com

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *