Selasa , Juli 16 2019
Home / Daerah / Lestarikan Adat Mamose, Tangkou Dan Topoyo Jangan Pernah Kami Dipisahkan Karna Tangkou Dan Topoyo Itu Satu

Lestarikan Adat Mamose, Tangkou Dan Topoyo Jangan Pernah Kami Dipisahkan Karna Tangkou Dan Topoyo Itu Satu

Mateng, 8enam.com.-Tradisi, adat dan budaya sudah menjadi kata wajid untuk tetap dilestarikan untuk anak cucu kita, seperti halnya Mamose (Pemanna) yang merupakan adat orang Budong-Budong yang harus tetap di lestarikan.

Dan untuk melestarikan adat Mamose, pengurus adat Tangkou Budong-budong menggelar ritual adat Mamose dua kali dalam setahun. Kali ini dilaksanakan di rumah adat Budong-Budong di Desa Tabolang, Kecamatan Topoyo, Kabupatem Mamuju Tengah, Kamis (13/6/2019).

Dalam Mamose (pemanna) terdapat berbagai ritual yang dilakukan, mulai dengan melakukan aksi menggunakan parang di tempat terbuka di sekitaran rumah adat Budong-Budong dan di saksikan langsung oleh raja dan masyarakat.

Dalam aksi Mamose (Pemanna) sebutan bagi tokoh adat yang sedang beraksi dengan berbicara bahasa Budong-Budong, lalu menyampaikan pesan-pesan terhadap raja maupun terhadap para masyarakat.

Sebelum melaksanakan aksinya terlebih dahulu diiringi dengan musik dengan gendang, saat Pamose menghadap ke raja dan Tobara, musik gendang di hentikan lalu Pamose memohon izin terhadap raja dan juga terhadap Tobara (ini adalah sebutan bagi kepala adat).

Ketua Panitia sekaligus Pengurus Adat Tangkou Budong-budong, Yusran Adhi Putra, katakan Adat mamose (pemanna) di lakukan dua kali dalam setahun dan adat Mamose ini harus tetap dilestarikan.

“Kita berharap di dua tempat ini Desa Topoyo dan Desa Tabolang, khususnya Adat Mamose (Pemanna) bisa tetap lestari. Tangkou dan Topoyo jangan pernah kami dipisahkan karna tangkaou dan topoyo itu satu, ini sudah menjadi tradisi dari adat Mamose (Pemanna),” kata Yusran.

Sementara Ketua DPRD Kabupaten Mateng, H. Arsal Aras menyampaikan bahwa adat Mamose (Pemanna) ini harus tetap dilestarikan dan jangan berhenti karena persoalan-persoalan lain. Olehnya itu Arsal berpesan kepada pengurus adat baik Topoyo maupun Tangkou agar membangun komunikasi apa yang harus dilakukan kedepan.

“Kami akan membuka diri untuk memperbaiki adat kita,” kata Arsal.

Kegiatan Adat kata Arsal, ini harus jalan terus tidak boleh terhenti, terkait dengan kekurangan-kekurangan yang selama ini dianggap kurang, ini kedepannya akan perbaiki mulai dari rumah adatnya, pasilitas yang lainnya.

Arsal juga menyampaikan, bahasa Budong-budong, bahasa Tangkou yang saat ini sudah masuk ke lab bahasa pusat. Lima tahyn yang lalu audah dilakukan kajian selama tiga tahun, rata-rata yang memahami bahasa Budong-budong itu tidak sampai seratus orang bahkan bahasa ini hampir punah.

“Kami sudah menyampaikan ke lab bahasa dalam bentuk penyempurnaan kamus, setelah bahasa ini sempurna kami akan membuat Perda bahasa Budong-budong ini kami akan masukkan lagi ke sekolah-sekolah di Mamuju Tengah,” ujar Arsal.

Kenapa demikian lanjut Arsal, sejarah Mamuju Tengah ini ada di Tangkou. Orang dulu mengatakan Budong-budong itu ada di Babana padahal Budong-budong itu adalah Tangkou, ini publik belum begitu paham.

“Sehingga kami masih menunggu penyempurnaan bahasa itu. Kalau penyempurnaan bahasa itu selesai, in shaa allah kami akan buat Perda dan akan menjadi pelajaran si SD yang ada di Kabupaten Mamuju Tengah,” ungkapnya. (Ysn Hms/wan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *