Kamis , Juni 27 2019
Home / Daerah / Dua Kecamatan Akan Dijadikan Lokus Program Kampung Gizi

Dua Kecamatan Akan Dijadikan Lokus Program Kampung Gizi

Mateng, 8enam.com.-Melalui program Gerakan Masyarakat Sadar Gizi (Germas Darzi) yang digagas oleh Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Mamuju Tengah (Mateng), Dua kecamatan di Kabupaten Mateng akan dijadikan Lokus program kampung gizi. Hal ini untuk mengatasi permasalahan gizi di Kabupaten Mateng

“Untuk dua bulan kedepan, kita akan berkosentrasi di dua kecamatan yaitu, Kecamatan Tobadak dan Kecamatan Topoyo. Dari dua kecamatan ini, ada Empat desa yang akan menjadi pilot project yakni Desa Wae Pute dan Desa Kabubu untuk Kecamatan Topoyo. Sedangkan untuk Kecamatan Tobadak yaitu Desa Mahahe dan Desa Bambadaru,” ujar Kepala Dinas Kesehatan Mateng, Setya Bero saat ditemui usai lounching Germas Darzi di Desa Tobadak Kecamatan Tobadak, Kamis (13/6/2019).

Setya Bero menjelaskan, kegiatan dalam kampung gizi itu, nantinya akan melakukan beberapa kegiatan pemenuhan termasuk regulasi tentang kampung gizi yaitu akan diterbitkan Peraturan Bupati (Perbup) yang berkaitan dengan kampung gizi.

“Kemudian kita akan melakukan revitalisasi Posyandu, pemamfaatan pekarangan rumah bekerjasama dengan kelompok wanita tani untuk pemenuhan keanekaragaman pangan dan pemenuhan gizi keluarga. Kita juga akan membuat Posyandu remaja, dimana para remaja akan mendapat pengetahuan atau bekal lebih awal tentang masalah gizi dan persiapan untuk berumah tangga dan menjadi ibu nantinya,” ucap Setya Bero.

Dia berharap satu tahun kedepan, semua desa di Kabupaten Mateng menjadi bagian dari kampung gizi. Dengan harapan permasalahan gizi yang ada di masyarakat, masyarakat dapat mengenali permasalahanya kemudian dapat mengatasinya dengan sendiri atau shering dengan petugas-petugas kesehatan. Sehingga permasalahan gizi, baik gizi kurus, gizi kurang, stunting di Mamuju Tengah dapat ditekan secara baik bahkan kita harus memcapai target nasional yang telah ditetapkan sehingga melahirkan anak-anak Mamuju Tengah yang cerdas.

Untuk mengevaluasi program kampung gizi, pihaknya akan melakukan pemulihan status gizi, pendampingan pemberian makanan tambahan, pemulihan untuk perbaikan gizi yang bermasalah.

“Ini dilakukan selama tiga bulan dengan mengukur berat badan, memberikan makanan dan suplemen setiap hari kemudian akan memgukur kenaikan berat badan setiap bulan, setiap tiga bulan akan melihat berapa kenaikan, kemudian ada pergeseran atau tidak misalnya dari gizi buruk menjadi gizi kurang dan menjadi gizi baik,” urainya.

“Ini adalah menjadi bahan evaluasi internal termasuk pada ibu hamil. Kemudian evaluasi external, kita akan melihat peran serta masyarakat atau lintas sektor terhadap program ini. Artinya ketika lintas sektor mempunyai dukungan yang kuat terhadap program ini, maka pembamgunan kesehatan di Mamuju Tengah khususnya perbaikan gizi akan berhasil lebih baik. Karena konsep membangun kesehatan itu 30 persen peran insan kesehatan dan 30 persen adalah peran lintas sektor. Kalau dua ini dipadukan maka akan membawa generasi Mamuju Tengaj jauh lebih baik,” sambungnya.

Setya Bero juga menuturkan, Syarat desa bisa dijadikan kampung gizi itu adalah, melalukan musyawarah masyarakat desa (MMD) dengan melibatkan aparatur desa, kepala desa, BPD, Tokoh Agama, Tokoh Masyarakat untuk mendiskusikan permasalahan gizi dan rencana tindak lanjut.

Setelah itu kata Setya Bero, persyaratan selanjutnya adalah harus dilahirkanya Peraturan Desa (Perdes) berkaitan dengan kampung gizi yang ada di desa itu. Persyaratan lain adalah harus ada pernyataan sikap dari seluruh komponen masyarakat desa itu yakni mempunyai kemauan yang sama baik sebagai kader ataupun sebagai pemangku kepentingan, sebagai subjek di masyarakat sama-sama berpartisipasi untuk mensukseakam atau melahirkan kampung tersebut menjadi kampung sadar gizi untuk merubah prilaku sadar gizi dan mengenali gizi minimal yang ada di dalam keluarganya. (Ach/wan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *