Senin , Oktober 19 2020
Home / Daerah / Guru SMP Negeri 7 Budong-budong Ini Berhasil Sisihkan 575 Guru Dalam Program BGMD Ke Jepang

Guru SMP Negeri 7 Budong-budong Ini Berhasil Sisihkan 575 Guru Dalam Program BGMD Ke Jepang

Foto sebelum pembukaan Forum ASSIGN 2019, Osaka University Jepan/igi.or.id

Mateng, 8enam.com.-Namanya Sunarto, Sekretaris Ikatan Guru Indonesia (IGI) Kabupaten Mamuju Tengah (Mateng) ini adalah salah seorang guru yang mengabdi di daerah terpencil, SMP Negeri 7 Budong-budong, Mamuju Tengah, Ia berhasil ke luar negeri tepatnya di Negara Jepang melalui program Bantu Guru Melihat Dunia (BGMD) 2019.

Dikutif dari website www.igi.or.id, Minggu (30/6/2019), BGMD adalah program study banding guru yang dilaksanakan oleh Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) untuk membantu guru mengenal lebih dekat sistem pendidikan yang ada di luar negeri. Program ini berlangsung selama 10 hari dengan rangkaian acara menghadiri forum internasional dan juga kunjungan di beberapa sekolah yang ada di Jepang.

Sunarto menuturkan, ia mengikuti seleksi program BGMD ini tidaklah mudah. Ada seleksi yang sangat ketat yang dilaksanakan oleh panitia sejak bulan Maret hingga Mei, Dimulai dengan seleksi berkas, Motivation video, bahkan seleksi wawancaranya ada dua tahap dan semuanya via online. Terakhir ada seleksi passport dan visa. Proses seleksi ini semakin berat mengingat peserta berkompetisi untuk menjadi 2 orang yang terbaik.

“Pendaftarnya se-Indonesia ada 575 orang guru, dan saya tidak menyangka saya bisa masuk dalam 20 besar untuk diwawancarai. Hal ini karena saya menyadari bahwa saya hanya guru daerah terpencil yang ada di Mamuju Tengah. Di luar sana apalagi di pulau Jawa banyak guru-guru yang hebat. Saya pun mencoba menjelaskan ke pewawancara terkait kondisi sekolah terpencil yang ada di Mamuju Tengah dan umumnya Indonesia. Alhamdulillah dengan rasa syukur ketika pengumuman saya dinyatakan lolos untuk ke Jepang bersama satu orang guru SD dari Bukittinggi, Sumatera Selatan,” ungkap guru berdarah mandar Majene ini.

Sunarto mengaku bahwa ini pengalaman pertama dia untuk mengikuti kegiatan di luar negeri. Karena sejak Dia mulai bertugas sebagai guru di pelosok Mamuju Tengah ada beberapa kegiatan yang dia ikuti di tingkat nasional.

“Kalau kegiatan secara nasional sudah beberapa kali. Pada tahun 2015 saya lolos dalam seleksi sekolah Guru Indonesia di bogor, tahun 2017 saya mendapat beasiswa untuk belajar bahasa Inggris di Kediri Jawa timur selama 3 bulan. Awal Februari kemarin saya lolos dalam seleksi Sekolah Anti Korupsi (SAKTI) guru yang dilaksanakan oleh ICW di Jakarta. Bulan lalu saya pun mewakili Sulawesi Barat dalam workshop perlindungan guru yang diadakan oleh Kementrian Pendidikan. Tapi untuk kegiatan ke luar negeri baru kali ini saya coba daftar, dan alhamdulillah langsung lolos,” ngkap mantan mahasiswa yang beralmamater biru tua ini. (halim)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *