Mamuju, 8enam.com.-Suasana Lapangan Sumare, Desa Sumare, Kecamatan Simboro mendadak meriah pada Minggu (2/8/2026). Alunan musik tradisional, tarian, dan gelak tawa warga menyatu dalam Pembukaan Festival Budaya Laskar Mamuju, sebuah hajatan hasil kolaborasi manis antara warga lokal dan mahasiswa KKN-PPM Universitas Gadjah Mada (UGM).
Acara ini dihadiri jajaran penting, mulai dari Kepala Dispoparekraf Sulbar yang juga Raja Mamuju Andi Bau Akram Dai, Anggota DPRD Sulbar Irwan Satya Putra Pababari, hingga jajaran pengurus Keluarga Alumni Gadjah Mada (KAGAMA) Sulbar.
Namun, di balik semarak pesta budaya merawat tradisi Manakarra ini, ada kabar mengejutkan dan angin segar yang dilontarkan KAGAMA Sulbar untuk masa depan pendidikan anak-anak di Sulawesi Barat.
Peluang emas apa yang sebenarnya sedang diperjuangkan?
Jalur Khusus ‘Karpet Merah’ Menuju Kampus UGM
Mewakili Ketua KAGAMA Sulbar, Muhammad Ridwan Djafar (yang juga menjabat Kadis KominfoSS Sulbar), membeberkan bahwa KAGAMA tengah memasak skema besar bersama Pemerintah Provinsi Sulbar dan Rektorat UGM.
Menyadari sengitnya persaingan masuk UGM secara nasional, KAGAMA Sulbar bergerak cepat memanfaatkan Nota Kesepahaman (MoU) yang telah ditandatangani Gubernur Suhardi Duka untuk membuka Jalur Afirmasi Kemitraan.
”Untuk bersaing secara normal saat ini mungkin cukup sulit bagi anak-anak kita. Melalui MoU Gubernur dan Rektor, KAGAMA memperjuangkan skema afirmasi kemitraan jalur khusus. Kuota yang dibidik targetnya 50 orang untuk jenjang S1 dan 20 orang untuk S2 asal Sulbar bisa kuliah di UGM,” ungkap Ridwan.
Budaya Lokal Terjaga, Akses Pendidikan Terbuka
Kehadiran mahasiswa KKN UGM di Sumare dan Tapandullu dinilai Ridwan sebagai bukti bahwa pengabdian masyarakat tidak cuma mengurus pembangunan fisik semata, melainkan juga menjaga identitas dan akar budaya daerah.
Atas nama alumni, Ridwan menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada warga dan Pemprov Sulbar yang telah menyambut hangat para mahasiswa. Ia berharap dampak KKN ini tidak berhenti saat masa pengabdian selesai, melainkan berlanjut lewat terbukanya pintu pendidikan tinggi bagi putra-putri daerah.
Lewat kombinasi pelestarian tradisi di tingkat akar rumput dan terobosan akses kuliah di kampus top nasional, Sulawesi Barat membuktikan komitmennya untuk mencetak generasi muda yang berbudaya sekaligus berdaya saing global!
Editor : Ammar







