Mamuju, 8enam.com.-Pemandangan tak biasa dan syarat akan makna sejarah mewarnai Upacara Detik-detik Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia tingkat Provinsi Sulawesi Barat (Sulbar) yang digelar di Lapangan Ahmad Kirang, Mamuju, Senin (17/8/2026).
Upacara yang dipimpin langsung oleh Gubernur Sulbar, Suhardi Duka (SDK), berlangsung sangat khidmat. Mengenakan seragam dinas upacara putih-putih, SDK memimpin penghormatan bendera yang diikuti oleh jajaran Organisasi Perangkat Daerah (OPD) Pemprov Sulbar serta seluruh peserta upacara.
Namun, perhatian publik tertuju pada kehadiran tamu-tamu istimewa: perwakilan dari 14 kerajaan se-Sulawesi Barat yang membaur di barisan undangan utama.
Simbol Konfederasi Pitu Babbana Binanga dan Pitu Ulunna Salu
Para pemangku adat dan perwakilan kerajaan yang hadir merupakan simbol kebesaran sejarah konfederasi adat terkemuka di Mandar, yakni Pitu Babbana Binanga (7 Kerajaan Pesisir) dan Pitu Ulunna Salu (7 Kerajaan Pegunungan).
Kehadiran para tokoh adat ini menjadi bukti nyata bahwa fondasi persatuan bangsa di tanah Sulbar telah terajut jauh sebelum Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya.
”Kemerdekaan Bukan Hadiah, Tapi Perjuangan Berdarah”
Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Sulbar, Muh Darwis Damir, menjelaskan bahwa pelibatan 14 kerajaan ini bertujuan untuk mengingatkan kembali generasi muda akan akar sejarah perjuangan bangsa.
”Perjuangan itu dimulai dari kerajaan-kerajaan. Setelah era kerajaan, masuklah ke masa persatuan dan kesatuan yang dimaknai dengan pergerakan para pemuda serta pimpinan founding fathers kita yang menyiapkan kemerdekaan,” tegas Darwis.
Ia menambahkan, Merah Putih dapat berkibar bebas hari ini karena adanya pengorbanan panjang yang dirintis dari benteng-benteng pertahanan kerajaan di masa lalu.
Akar Perjuangan: Dimulai dari perlawanan lokal kerajaan-kerajaan Nusantara.
Era Pergerakan: Dipersatukan oleh semangat kepemudaan dan nasionalisme.
Hasil Perjuangan Mandiri: Mengingatkan bahwa Indonesia merdeka atas darah dan keringat sendiri, bukan pemberian atau “hadiah” penjajah.
”Bangsa Indonesia adalah salah satu bangsa yang merebut kemerdekaannya sendiri. Kalau mungkin bangsa lain mendapat hadiah, kita tidak. Ini adalah perjuangan murni,” pungkas Darwis.
Editor Ammar







