Mateng, 8enam.com.-Komoditas cabai sering kali menjadi biang kerok melonjaknya angka inflasi yang bikin dompet emak-emak menjerit. Menyikapi hal tersebut, sebuah gerakan stimulan digelorakan di tengah riuhnya agenda panen raya cabai di Desa Lemo-Lemo, Kecamatan Pangale Kabupaten Mamuju Tengah.
Dalam momentum panen tersebut, Bupatiateng, DR. H. Arsal Atas secara terbuka menantang masyarakat untuk tidak lagi menjadi konsumen pasif yang bergantung penuh pada harga pasar.
Ia mengajak warga memanfaatkan jengkal demi jengkal pekarangan rumah yang kosong untuk ditanami tanaman palawija dan hortikultura secara mandiri. Langkah kecil ini dinilai bisa menjadi tameng ampuh dalam menjaga ketahanan pangan keluarga.
Pekarangan Rumah: Solusi Murah Redam “Pedasnya” Harga Cabai
Aksi panen bersama petani Lemo-Lemo ini membuktikan bahwa tanah di Sulawesi Barat khususnya di Mamuju Tengah sangat subur dan potensial untuk pengembangan tanaman pangan jangka pendek.
Arsal menekankan, masyarakat sebenarnya bisa menghemat pengeluaran dapur hingga ratusan ribu rupiah per bulan jika mau memanfaatkan ruang di sekitar rumah mereka sendiri.
Ada beberapa tanaman palawija dan hortikultura yang sangat direkomendasikan untuk ditanam di pekarangan:
-
- Cabai dan Tomat: Komoditas wajib dapur yang paling sering mengalami lonjakan harga ekstrem di pasar.
- Sayuran Hijau (Sawi, Kangkung, Bayam): Mudah tumbuh dalam waktu singkat menggunakan media pot atau polibag.
- Toga (Tanaman Obat Keluarga): Seperti jahe, kunyit, dan serai sebagai pelengkap kebutuhan harian.
”Kita harus kreatif. Jangan biarkan ada lahan pekarangan yang telantar dan ditumbuhi rumput liar. Kalau setiap rumah tangga menanam beberapa pohon cabai dan sayuran, kita tidak perlu panik lagi setiap kali harga di pasar melonjak naik,” ujar Arsal menyemangati warga.
Menuju Kemandirian Pangan Berbasis Keluarga
Strategi pemanfaatan lahan pekarangan (urban farming skala pedesaan) ini dinilai sangat klop dengan program ketahanan pangan yang sedang digenjot oleh pemerintah daerah.
Dengan menanam sendiri, masyarakat tidak hanya mendapatkan bahan pangan yang jauh lebih segar dan sehat, tetapi juga ikut membantu pemerintah dalam menekan laju inflasi daerah dari sektor komoditas bumbu dapur.
Arsal berharap, Desa Lemo-Lemo bisa menjadi pelopor bagi desa-desa lain di Mamuju Tengah dalam urusan kemandirian pangan tingkat rumah tangga.
Ia meminta dinas terkait dan penyuluh pertanian lapangan (PPL) untuk ikut turun tangan memberikan pendampingan, mulai dari pembagian bibit gratis hingga edukasi cara menanam yang praktis bagi emak-emak di rumah. (Rls)
Editor : Ammar







