Example 300250
DaerahMamuju

Bukan Proyek Anggaran! Dikbud Sulbar Gandeng Relawan hingga Kampus Kawal 550 Anak Putus Sekolah Kembali Kuliah dan Sekolah

×

Bukan Proyek Anggaran! Dikbud Sulbar Gandeng Relawan hingga Kampus Kawal 550 Anak Putus Sekolah Kembali Kuliah dan Sekolah

Sebarkan artikel ini

Mamuju, 8enam.com.-Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Provinsi Sulawesi Barat (Sulbar) menegaskan bahwa penanganan Anak Tidak Sekolah (ATS) di Bumi Manakarra tidak boleh terjebak dalam formalitas proyek seremonial. Sebaliknya, agenda ini harus menjadi sebuah gerakan sosial yang masif dan berkelanjutan.

​Setelah sukses mengembalikan 550 ATS ke bangku sekolah pada momentum Hari Pendidikan Nasional awal Mei lalu, Dikbud Sulbar kini melangkah ke tahapan yang jauh lebih krusial: memastikan anak-anak tersebut betah dan tidak putus sekolah lagi.

​Komitmen tersebut dibahas secara mendalam dalam forum pertemuan pendahuluan yang digelar secara daring oleh Dikbud Sulbar bersama sejumlah komunitas relawan, organisasi kepemudaan, dan perwakilan perguruan tinggi, belum lama ini.

​Kepala Dinas Dikbud Sulbar, Nehru Sagena, mengungkapkan bahwa sekadar mengembalikan anak ke sekolah barulah langkah awal. Tantangan sesungguhnya adalah proses pendampingan pasca-kembali bersekolah karena tidak ada jaminan mereka bisa langsung bertahan di kelas.

​“Kami sudah merancang mekanisme pendampingan dengan menggandeng berbagai pihak. Relawan akan berkunjung ke sekolah, melakukan konseling, serta berdiskusi aktif dengan guru maupun orang tua masing-masing. Agenda ini berbasis gerakan, bukan proyek. Kalau basisnya proyek, semua akan sangat tergantung anggaran. Karena ini gerakan, ini menjadi modal sosial kita bersama untuk memberi mereka kesempatan kedua dalam hidup,” tegas Nehru Sagena.

​Siapkan Benteng Pencegahan: Dari Posko Desa hingga Hotline WhatsApp

​Selain tindakan kuratif (mengembalikan yang sudah putus sekolah), Dikbud Sulbar juga tengah mematangkan sistem preventif (pencegahan) agar angka ATS tidak kembali meroket.

​Salah satu strategi yang disimulasikan adalah peluncuran posko pengaduan fisik—seperti yang tengah disiapkan di Kecamatan Tapango, Polman—serta kanal aduan digital berbasis hotline WhatsApp dan website resmi.

​Sistem peringatan dini (early warning system) ini didorong hingga ke level pemerintah desa agar anak-anak yang rawan putus sekolah akibat himpitan ekonomi atau masalah lingkungan dapat terdeteksi dan diselamatkan sejak awal.

​Banjir Dukungan: Siap Eksekusi ‘Kolaboraksi’ Nyata di Lapangan

​Niat mulia Dikbud Sulbar langsung bersambut gayung oleh berbagai elemen sipil. Perwakilan Mata Garuda Sulbar (wadah alumni penerima beasiswa LPDP Kemenkeu), Muhammad Harianto, menegaskan komitmen penuh anggotanya untuk mengisi ruang pendampingan dan konseling bagi anak-anak ATS.

​Apresiasi serupa datang dari Fatmawati, pengelola Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) di Mamuju Tengah. Ia menilai forum ini sebagai jembatan yang dinanti-nantikan para pegiat literasi.

​“Selama ini kami berjalan sendiri-sendiri mencari teman bervisi sama. Momentum ini saatnya kita melakukan kolaboraksi nyata, bukan lagi sekadar kolaborasi di atas kertas,” cetus Fatmawati bersemangat.

​Dari sisi kampanye digital, Yusril dari sipamandar.id menyatakan siap menyuplai konten-konten edukasi kreatif di media sosial guna mengikis stigma anak putus sekolah.

​Sementara itu, dari sektor akademis, Rektor Institut Hasan Sulur (IHS), Dr. Hj. Agusnia Hasan Sulur, mengingatkan bahwa tantangan generasi z dan alpha saat ini jauh lebih kompleks, sehingga pendekatan psikologis yang dilakukan relawan di lapangan nantinya harus lebih personal dan kekinian. IHS pun menyatakan kesiapannya menjadi mitra strategis berbasis riset dan pengabdian masyarakat untuk gerakan ini.

Editor: Ammar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *