Example 300250
ArtikelDaerahHeadlineMamujuOpini

62 Tahun Beringin: Dari Tangan Dingin Akbar Tandjung Hingga Pertaruhan Politik Assul di Sulbar

×

62 Tahun Beringin: Dari Tangan Dingin Akbar Tandjung Hingga Pertaruhan Politik Assul di Sulbar

Sebarkan artikel ini

Mamuju.-Selasa, 20 Oktober 2026, Partai Golongan Karya (Golkar) genap berusia 62 tahun sejak resmi berdiri pada Oktober 1964. Angka ini mengukuhkan Beringin sebagai salah satu partai politik tertua yang masih eksis dan berpengaruh di Indonesia.

​Di ranah internasional, jejak historis Golkar kerap disandingkan dengan United Malays National Organisation (UMNO) di Malaysia. Sama halnya dengan UMNO yang menjadi kekuatan tunggal di negeri jiran melalui figur legendaris Tun Dr. Mahathir Mohamad, Golkar pernah mendominasi panggung politik nasional selama 32 tahun di era Orde Baru di bawah naungan Pak Harto.

​Namun, ujian sejati Golkar terjadi pasca-Reformasi 1998. Gelombang penolakan publik dan mahasiswa sempat menuntut pembubaran Golkar yang dianggap sebagai simbol Orde Baru. Di titik krusial inilah lahir figur “penyelamat” partai: Akbar Tandjung.

​Melalui komando Akbar Tandjung, Golkar bertransformasi menjadi Partai Golkar “Haluan Baru”. Lewat konsolidasi dari pintu ke pintu di daerah, Akbar berhasil membakar semangat kader. Hasilnya fenomenal: Golkar menyabet posisi runner-up pada Pemilu 1999 di bawah PDI Perjuangan, dan puncaknya kembali keluar sebagai pemenang Pemilu 2004. Golkar membuktikan keahliannya berselancar di atas gelombang kekuasaan, tak peduli siapa pun presidennya.

​Bahlil dan Sorotan Nasional

​Kini, di bawah kepemimpinan Bahlil Lahadalia yang terpilih pada Agustus 2024 lalu, Golkar tak lepas dari pergunjingan publik. Bahlil kerap disorot sebagai figur titipan kekuatan luar istana, di samping dinamika internal terkait status akademisnya di Universitas Indonesia. Meski demikian, mesin partai di tingkat nasional terbukti tetap solid dan tak mudah goyah oleh badai opini publik.

​Golkar Sulbar: Warisan Aras Tammauni dan Pertaruhan Syamsul Mahmud

​Dinamika tak kalah menarik terjadi di tingkat daerah. Di Sulawesi Barat, partai Beringin baru saja mencatatkan sejarah manis pada Pemilu Lokal 2024 di bawah kepemimpinan tokoh senior H. Aras Tammauni. Golkar berhasil menggeser dominasi Demokrat di DPRD Provinsi Sulbar dan menyapu bersih kemenangan di 4 kabupaten pada Pilkada 2024.

​Namun, kegagalan mengamankan 1 kursi DPR RI ke Senayan menjadi celah yang memicu manuver di internal partai. Secara mengejutkan, DPP Golkar memutuskan “memarkir” Aras Tammauni dan menyerahkan tampuk kepemimpinan DPD Golkar Sulbar kepada Syamsul Mahmud (Assul), yang kini juga menjabat sebagai Bupati Polewali Mandar.

​Keputusan melengserkan Aras dan menunjuk Assul adalah sebuah perjudian politik yang berani menjelang agenda elektoral 2029.

​Di satu sisi, Polewali Mandar yang dipimpin Assul adalah lumbung suara terbesar di Sulawesi Barat. Namun di sisi lain, rekam jejak elektoral Assul dinilai belum benar-benar teruji dalam skala provinsi selain kemenangan lokalnya pada Pilkada lalu.

​Gaya kepemimpinan Assul yang cenderung tertutup dari pergaulan publik—termasuk keengganannya membangun komunikasi terbuka dengan insan pers—menimbulkan keprihatinan tersendiri. Gaya panggung politik yang diwarnai kacamata gelapnya kerap memicu tanda tanya publik: apakah itu bagian dari gaya personal, ataukah cermin dari resistensinya terhadap tatapan kritis rakyat dan transparansi media?

​Kini, di usia Golkar yang ke-62 tahun, kepemimpinan Assul menjadi penentu arah angin. Mampukah ia merawat lebatnya daun Beringin di Sulawesi Barat hingga 2029, ataukah keputusan elitis ini justru membuat akar Golkar Sulbar kian keropos? Time will tell.

​Selamat Hari Ulang Tahun ke-62 Partai Golkar!

​Oleh: Sarman Sahuding

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *