Mamuju, 8enam.com.-Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat (Sulbar) memasang target tinggi dalam perang melawan stunting. Sekretaris Daerah Sulbar, Junda Maulana, menegaskan bahwa aktivasi 2.000 Posyandu secara serentak adalah kunci utama untuk menyelamatkan generasi masa depan Sulbar dari ancaman lost generation.
Hal tersebut disampaikan Junda saat menjadi narasumber dalam kegiatan Pembinaan dan Peningkatan Kapasitas Pengelolaan Posyandu di era baru dengan enam Standar Pelayanan Minimal (SPM) di Mamuju, Senin (06/04/2026).
Bukan Sekadar Urusan Perut
Dalam arahannya, Junda menyoroti pola pikir masyarakat yang masih menganggap kecukupan pangan hanya sebatas rasa kenyang. Menurutnya, edukasi gizi seimbang menjadi pekerjaan rumah besar bagi para kader di lapangan.
”Kita harus memastikan masyarakat tidak hanya makan untuk kenyang, tetapi memperhatikan gizi seimbang—sayur, biji-bijian, dan protein. Selain itu, faktor sanitasi dan akses air bersih juga punya peran besar yang sering terlupakan,” jelas Junda.
Ia juga menambahkan bahwa pernikahan usia dini masih menjadi salah satu pemicu utama tingginya angka stunting di Bumi Manakarra yang kini berada di angka 35 persen berdasarkan data umum.
Program ‘Pastipadu’ Tahun Kedua: Fokus Kolaborasi
Di bawah kepemimpinan Gubernur Suhardi Duka, Pemprov Sulbar kini memacu program Pastipadu (Penanganan Stunting dan Penanggulangan Kemiskinan Terpadu). Program yang memasuki tahun kedua ini mengedepankan kolaborasi pembiayaan lintas level pemerintahan.
-
- Pusat & Provinsi: Dukungan regulasi dan bantuan teknis.
- Kabupaten & Desa: Eksekusi anggaran dan penggerakan kader di tingkat dusun.
”Jangan hanya bergantung pada satu sumber anggaran. Kita harus kolaborasi sesuai kewenangan masing-masing. Posyandu adalah ujung tombak karena mereka yang langsung menyentuh kelompok sasaran di level terbawah,” tegasnya.
Akurasi Data Adalah Senjata
Junda Maulana memberikan catatan penting mengenai validitas data. Meski data e-PPGBM menunjukkan tren positif dengan penurunan angka stunting ke 26 persen, ia mengingatkan bahwa angka tersebut hanya valid jika Posyandu aktif bergerak.
”Kalau Posyandu tidak aktif, bisa terjadi error data. Validitas itu tergantung keaktifan petugas di lapangan. Kita butuh data akurat untuk mengambil langkah penanganan yang tepat,” imbuhnya.
Melalui penguatan 2.000 Posyandu ini, Pemprov Sulbar optimistis dapat memberikan kontribusi nyata bagi pencapaian visi Indonesia Emas 2045, dengan memastikan anak-anak Sulbar tumbuh sehat, cerdas, dan kompetitif.
Editor: Ammar







