Example 300250
DaerahMamuju

Peringatan Dini BMKG : BPBD Sulbar Siaga Cuaca Ekstrem Hingga 2 Februari 2026

×

Peringatan Dini BMKG : BPBD Sulbar Siaga Cuaca Ekstrem Hingga 2 Februari 2026

Sebarkan artikel ini

Mamuju, 8enam.com.-Masyarakat Sulawesi Barat diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan ekstra dalam sepekan ke depan. Berdasarkan laporan resmi BMKG periode 27 Januari hingga 2 Februari 2026, wilayah Sulawesi Barat diprediksi akan terdampak cuaca ekstrem berupa hujan lebat disertai angin kencang yang dipicu oleh fenomena atmosfer global.

​Menindaklanjuti laporan tersebut, Pelaksana Kalaksa BPBD Provinsi Sulawesi Barat, Muhammad Yasir Fattah, menginstruksikan seluruh jajaran Pusdalops untuk memperkuat langkah mitigasi sesuai arahan Gubernur Suhardi Duka (SDK) guna menjamin keselamatan warga dari ancaman bencana hidrometeorologi.

Faktor Pemicu Hujan Ekstrem

​Yasir Fattah menjelaskan bahwa penguatan Monsun Asia, aktifnya lonjakan angin utara lintas ekuator (Cross Equatorial Northerly Surge atau CENS), serta kondisi La Niña lemah menjadi faktor utama labilitas atmosfer di wilayah Indonesia.

​“Kelembapan udara yang tinggi dan atmosfer yang tidak stabil berpotensi memicu hujan dengan intensitas sedang hingga lebat. Kondisi ini meningkatkan risiko banjir, genangan, tanah longsor, hingga pohon tumbang akibat angin kencang,” papar Yasir Fattah, Rabu (28/01/2026).

Imbauan Hindari Wilayah Rawan

​BPBD Sulawesi Barat telah menyebarkan peringatan dini ke seluruh BPBD kabupaten di wilayah Sulbar. Warga yang berdomisili di sekitar bantaran sungai, lereng perbukitan, dan wilayah pesisir diminta untuk lebih peka terhadap perubahan cuaca yang mendadak.

​“Kami mengimbau pemerintah kabupaten, aparat desa, dan masyarakat untuk segera membersihkan saluran drainase agar tidak tersumbat. Hindari aktivitas di wilayah rawan longsor saat hujan turun lebih dari satu jam dengan intensitas tinggi,” tambahnya.

Koordinasi 24 Jam Pusdalops

​Saat ini, Pusdalops BPBD Sulbar terus memantau pergerakan awan dan curah hujan secara real-time berkoordinasi dengan BMKG. Masyarakat diminta segera melaporkan kejadian darurat kepada posko BPBD setempat jika terjadi kenaikan debit air sungai atau tanda-tanda pergeseran tanah.

​”Kesiapsiagaan adalah kunci. Jangan menunggu bencana datang, segera evakuasi mandiri jika kondisi lingkungan mulai membahayakan,” tutup Yasir Fattah. (Rls)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *