Kamis , Oktober 1 2020
Home / Bolsel / Lahan Sempit Bukan Soal Untuk Menjaga Ketahanan Pangan Ditengah Pandemi Covid-19

Lahan Sempit Bukan Soal Untuk Menjaga Ketahanan Pangan Ditengah Pandemi Covid-19

Bolsel, 8enam.com.-Lahan sempit tidak menjadi penghalang bagi ibu-ibu di Dusun Empat yang tergabung di Kelompok Wanita Tani (KWT) bunga tanjung Desa Tabilaa, Kecamatan Bolaang Uki Kabupaten Bolaang Monggondow Selatan (Bolsel) untuk menghemat pengeluaran konsumsi rumah tangga, akan tapi tetap sehat bagi tubuh.

Sejumlah ibu-ibu KWT Bunga Tanjung yang ada di Dusun Empat Desa Tabilaa memanfaatkan lahan terbatas di permukiman (pekarangan depan rumah) mereka untuk bercocok tanam.

Salah satu anggota KWT Bunga Tanjung Desa Tabilaa, Jeyin mengatakan, menanam sayuran di lahan terbatas menjadi salah satu langkah menjaga ketahanan pangan di tingkat keluarga, sekaligus berfungsi sebagai penghijauan lingkungan.

“Di tengah pandemi covid-19 seperti sekarang ini perekonomian keluarga menurun, kita bisa memanfaatkan hasil panen sayuran dan rempah-rempah sendiri untuk menghemat pengeluaran keluarga,” ucapnya kepada awak media saat di konfirmasi Senin (10/8/2020).

Ia menambahkan, walau mereka tinggal di lingkungan yang padat penduduk, para ibu-ibu KWT Bunga Tanjung tak lantas menyerah dengan sempitnya lahan. Mereka kemudian menghijaukan halaman rumah dengan beraneka ragam sayur-sayuran dan rempa-rempa.

Teringat pepatah “Tidak ada rotan, akar pun jadi,” demikian pula yang dilakukan para ibu ini. Sayuran dan rempah-rempah milik mereka ditanam di dalam poly bag dengan metode vertikultur. Minimal tiap anggota kwt bunga tanjung desa tabilaa diberikan 75 poly bag dan paranet untuk menanam sayuran dan rempa-rempa di pekarangan rumah mereka.

“Biasanya kami menanam menggunakan sayuran seperti terong, tomat, cabai, bawang merah, bawang putih, batang bawang, kangkung, bayam, dan lain-lain,” ungkapnya.

Penyuluh Pertanian Desa Tabilaa Imin Latif mengatakan, dengan memanfaatkan lahan sempit (pekarangan rumah) untuk menanam tanaman sayuran dan rempah-rempah sendiri sangat membantu keuangan rumah tangga di saat pandemi Covid-19 seperti sekarang ini. Ibu-ibu bisa memasak hasil panen untuk dikonsumsi keluarga.

“Selain lahan sempit (pekarangan rumah) yang di kelolah oleh ibu-ibu kwt bunga tanjung desa tabilaa untuk bercocok tanam, ibu-ibu kwt bunga tanjung juga memiliki lahan khusus yang di kelolah kelompok untuk bercocok tanam yaitu lahan demplot yang memiliki luas kurang lebih seper 4 hektar yang ditanami sayur-sayuran dan rempah-rempah. Hasil dari tanam sayur-sayuran dan rempah-rempah yang ditanam oleh kwt bunga tanjung di lahan demplot sebagian dikonsumsi pribadi dan sebagian di pasarkan (dijual) dirumah makan terdekat, dan hasil penjualannya sebagian diberikan ke kas kelompok kwt bunga tanjung dan sebagiannya di bagi ke anggota KWT,” ucap Imin Latif

Ia juga mengatakan bahwa semoga kegiatan ibu-ibu kwt bunga tanjung desa tabilaa bisa menjadi contoh buat ibu-ibu lain yang belum memanfaatkan lahan sempit (pekarang rumah) untuk bercocok tanam khususya ibu-ibu yang ada di desa tabilaa

“Bagi ibu-ibu yang ada di desa tabilaa mau memanfaatkan lahan sempit ( pekarangan rumahnya ) untuk bercocok tanam sayur-sayuran atau rempah-rempah dan membutuhkan poly bag dan paranet bisa menghubungi saya, 75 poly bag dan paranet akan di berikan secara gratis kepada ibu-ibu yang ada di desa tabilaa yang mau memanfaatkan lahan sempit (pekarangan rumahnya) untuk bercocok tanam dengan jaminan poly bag dan paranet di gunakan untuk menanam sayur-sayuran atau rempah-rempah bukan bunga,” tutupnya. (2M)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *