Example 300250
DaerahMamuju

Investasi Keselamatan : BPBD Sulbar Dorong Pelajar SMA Jadi Pelopor Budaya Sadar Bencana

×

Investasi Keselamatan : BPBD Sulbar Dorong Pelajar SMA Jadi Pelopor Budaya Sadar Bencana

Sebarkan artikel ini

Mamuju, 8enam.com.-Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Sulawesi Barat terus berupaya memperkuat ketahanan daerah melalui jalur pendidikan. Pelajar Sekolah Menengah Atas (SMA) dan sederajat kini dibidik untuk menjadi “Agen Perubahan” dalam upaya mitigasi dan pengurangan risiko bencana di Bumi Manakarra.

​Langkah ini selaras dengan instruksi Gubernur Sulawesi Barat, Suhardi Duka (SDK), yang menekankan pentingnya membangun budaya sadar bencana sejak dini demi menciptakan generasi yang tangguh dan sigap menghadapi potensi ancaman hidrometeorologi maupun geologi.

Sekolah Sebagai Ruang Strategis Mitigasi

​Kepala Pelaksana BPBD Sulbar, Muhammad Yasir Fattah, menyatakan bahwa siswa SMA memiliki peran krusial karena kemampuan adaptasi dan berpikir kritis mereka yang tinggi. Mereka diharapkan tidak hanya mampu menyelamatkan diri sendiri, tetapi juga menjadi penyambung lidah informasi keselamatan bagi keluarga dan lingkungan sekitar.

​“Edukasi kebencanaan di SMA harus terus digalakkan. Siswa bukan hanya penerima informasi, tetapi juga pelopor keselamatan. Ketika mereka paham mitigasi, risiko korban jiwa dan material dapat ditekan sejak awal,” ujar Yasir Fattah, Senin (02/02/2026).

Pembentukan Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB)

​Materi edukasi yang diberikan tidak hanya bersifat teoretis. BPBD Sulbar mendorong sekolah-sekolah untuk menerapkan konsep Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB), yang meliputi:

  • ​Pengenalan potensi bencana lokal (Gempa, Tsunami, Longsor, Banjir).
  • ​Pelatihan simulasi evakuasi mandiri dan penggunaan jalur evakuasi.
  • ​Pemanfaatan teknologi peringatan dini berbasis komunitas.

Sinergi Lintas Sektor

​Dalam pelaksanaannya, BPBD Sulbar menggandeng Dinas Pendidikan, relawan, dan komunitas kebencanaan. Sinergi ini bertujuan untuk memastikan simulasi dan pelatihan kebencanaan menjadi agenda rutin, bukan sekadar kegiatan seremonial.

​“Ini adalah investasi keselamatan jangka panjang. Semakin banyak anak muda yang paham mitigasi, semakin kuat ketahanan daerah kita. Kami ingin melahirkan generasi yang tidak panik saat bencana terjadi, melainkan tahu persis apa yang harus dilakukan,” tutup Yasir Fattah. (Rls)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *