Majene, 8enam.com.-Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (DKPPKB) Provinsi Sulawesi Barat melakukan langkah inovatif dalam menekan angka stunting melalui penguatan sektor kesehatan kerja. Melalui Tim Kerja Promosi Kesehatan dan Kesehatan Rentan, DKPPKB melaksanakan bimbingan evaluasi serta monitoring Pembinaan Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) bagi pekerja perempuan di Kabupaten Majene, Kamis (26/2/2026).
Kegiatan ini merupakan pengejawantahan visi Gubernur Sulawesi Barat, Suhardi Duka (SDK), dalam membangun Sumber Daya Manusia (SDM) yang unggul melalui perlindungan kesehatan perempuan usia produktif.
GP2SP: Menjaga Kesehatan Reproduksi di Lingkungan Kerja
Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Sulbar, dr. Nursyamsi Rahim, menjelaskan bahwa program Gerakan Pekerja Perempuan Sehat Produktif (GP2SP) menyasar pekerja di sektor formal maupun informal/UMKM. Fokus utamanya adalah melindungi kesehatan reproduksi dan status gizi pekerja perempuan sebagai bagian integral dari pencegahan stunting.
”Pencegahan stunting tidak hanya soal intervensi gizi saat hamil, tetapi dimulai dari perlindungan kesehatan perempuan di lingkungan kerja. Kami ingin memastikan para pekerja perempuan, baik di pabrik maupun UMKM, memiliki lingkungan kerja yang aman dan ergonomis agar status kesehatan mereka tetap terjaga,” ujar dr. Nursyamsi.
Deteksi Risiko Kerja pada Pelaku UMKM
Rangkaian kegiatan diawali di Puskesmas Totoli, di mana Tim Kesehatan Komunitas yang dipimpin oleh Darwis memaparkan potensi Penyakit Akibat Kerja (PAK) yang sering terabaikan oleh pelaku UMKM di Majene. Beberapa temuan risiko di lapangan meliputi:
- Dermatitis: Pada pekerja pengolah agar-agar akibat paparan bahan secara terus-menerus tanpa pelindung.
- Risiko Cedera: Pada pekerja nelayan perempuan yang tidak menggunakan sarung tangan saat beraktivitas di kapal.
- Gangguan Ergonomis: Akibat posisi kerja yang tidak tepat dalam waktu lama.
Pendekatan Dialogis di Lapangan
Bersama Muh. Faturrahman dan tim pengelola program puskesmas, pembinaan dilakukan secara dialogis langsung kepada kelompok pekerja perempuan. Pekerja didorong untuk menyampaikan kendala kesehatan yang mereka rasakan selama bekerja agar dapat dicarikan solusi pencegahan dini.
DKPPKB Sulbar menegaskan bahwa dengan meningkatnya kesadaran K3, produktivitas pekerja perempuan akan naik, sementara risiko gangguan kesehatan yang dapat berdampak pada kualitas generasi mendatang (stunting) dapat diminimalisir sejak dini. (Rls)







