Mamuju, 8enam.com.-Gubernur Sulawesi Barat, Suhardi Duka (SDK), memaparkan analisis mendalam mengenai peta jalan ekonomi daerah dalam Rapat Kerja Daerah (Rakerda) perdana yang melibatkan seluruh Pemerintah Kabupaten se-Sulbar. Bertempat di Ballroom Andi Depu, Kantor Gubernur Sulbar, Selasa (20/01/2026), SDK menekankan pentingnya peran negara yang kuat dan kolaborasi dalam membangun kedaulatan ekonomi.
Rakerda ini dihadiri secara virtual oleh para Bupati, Wakil Bupati, dan Sekda dari enam kabupaten, serta diikuti langsung oleh jajaran Kepala OPD dan tenaga ahli lingkup Pemprov Sulbar.
Pelajaran dari Tiongkok: Pragmatisme dan Kolaborasi
Dalam pidatonya, Gubernur SDK membedah lompatan besar Tiongkok yang berhasil bertransformasi dari negara miskin pada 1978 menjadi kekuatan global. Ia menyoroti model ekonomi hibrida Tiongkok di mana pemerintah memegang peran sentral dalam kebijakan industri dan intervensi fiskal yang terarah.
”Tiongkok membangun kolaborasi erat antara pelaku usaha dan pemerintah daerah. Sinkronisasi kebijakan dan aksi lapangan berjalan sangat cepat. Bahkan, filosofi ‘tidak masalah kucing hitam atau putih, yang penting bisa menangkap tikus’ menunjukkan pragmatisme mereka demi kesejahteraan rakyat,” ujar SDK.
Memilih Pertanian: Berpihak pada Rakyat
Menghadapi pilihan arah pembangunan Sulawesi Barat, Gubernur SDK secara tegas memilih sektor pertanian dibandingkan pertambangan sebagai motor penggerak ekonomi.
“Sulawesi Barat punya dua potensi besar: pertanian dan pertambangan. Tapi kalau kita memilih pertambangan, sumber daya akan terkuras dan risiko lingkungan besar. Kalau kita memilih pertanian, itu berpihak pada rakyat,” tegas SDK.
Namun, ia menggarisbawahi bahwa pertanian yang dimaksud bukan model tradisional yang memelihara kemiskinan, melainkan Pertanian Modern. Saat ini, 46% PDRB Sulawesi Barat ditopang oleh sektor pertanian, sehingga modernisasi sektor ini bersifat wajib.
Strategi Transformasi Ekonomi SDK-JSM
Untuk mewujudkan visi tersebut, Gubernur SDK memaparkan lima pilar transformasi pertanian modern di Sulbar:
- Peningkatan Indeks Pertanaman: Mengoptimalkan masa tanam dengan bantuan teknologi.
- Pola Inti-Plasma: Membangun kemitraan antara perusahaan besar dan petani rakyat.
- Hilirisasi Industri: Mengolah bahan mentah menjadi produk bernilai tambah di dalam daerah.
- UMKM Modern: Menjadikan UMKM sebagai instrumen inklusi ekonomi yang adaptif teknologi.
- Rantai Perdagangan Terintegrasi: Memangkas rantai distribusi agar petani mendapatkan harga yang adil.
“Transformasi pertanian menuju model modern adalah kunci untuk meningkatkan PDRB dan menurunkan kemiskinan secara berkelanjutan serta berkeadilan di Sulawesi Barat,” pungkasnya. (Rls)







