Mamuju, 8enam.com.-Komoditas perikanan kembali menjadi sorotan dalam peta inflasi Sulawesi Barat pada Januari 2026. Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi Sulawesi Barat mencatat adanya disparitas harga yang cukup lebar antar kabupaten, dengan tren harga tertinggi cenderung berada di wilayah utara seperti Pasangkayu dan Mamuju Tengah.
Langkah pemantauan ini merupakan instruksi langsung Gubernur Sulawesi Barat, Suhardi Duka (SDK), bersama Sekda Junda Maulana melalui Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) untuk menjaga daya beli masyarakat dan menekan laju inflasi pangan strategis.
Rincian Fluktuasi Harga Komoditas
Berdasarkan data terkini DKP Sulbar, beberapa jenis ikan mengalami variasi harga yang mencolok:
- Ikan Kembung: Harga tertinggi ditemukan di Pasangkayu mencapai Rp57.000/kg, sedangkan harga terendah berada di Polewali Mandar sebesar Rp40.000/kg.
- Ikan Tuna: Pasangkayu kembali mencatat harga tertinggi Rp58.000/kg, disusul Mamuju Tengah Rp53.333/kg.
- Ikan Layang: Mamuju Tengah mencatat harga tertinggi Rp53.333/kg, sementara harga paling kompetitif berada di Polewali Mandar Rp37.000/kg.
- Ikan Bandeng: Harga di Mamuju mencapai Rp46.250/kg, berbanding jauh dengan Polman yang hanya Rp34.400/kg.
Secara umum, Kabupaten Majene dan Polewali Mandar relatif memiliki harga yang lebih rendah dan stabil dibandingkan kabupaten lainnya di Sulawesi Barat.
Faktor Cuaca dan Rantai Distribusi
Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Sulbar, Safaruddin, S.DM, menjelaskan bahwa perbedaan harga ini dipicu oleh faktor struktural dan teknis.
”Kondisi cuaca dan gelombang laut sangat memengaruhi volume tangkapan. Selain itu, biaya logistik seperti es balok, bahan bakar, serta panjangnya rantai pemasaran di wilayah dengan akses infrastruktur terbatas menjadi penyebab utama tingginya harga di tingkat konsumen,” jelas Safaruddin.
Strategi Pengendalian: Cold Storage hingga Digitalisasi
Guna meredam gejolak harga di masa depan, DKP Sulbar telah menyiapkan lima solusi strategis:
- Fasilitas Rantai Dingin: Optimalisasi cold storage dan ice plant untuk menjaga stok saat musim paceklik.
- Efisiensi Distribusi: Mendorong pengiriman pasokan dari daerah surplus (seperti Polman/Majene) ke daerah defisit (Pasangkayu/Mateng).
- Akses BBM Subsidi: Memfasilitasi kemudahan bahan bakar bagi nelayan untuk menekan biaya operasional tangkap.
- Digitalisasi Data: Publikasi harga secara rutin dan akurat sebagai dasar pengambilan kebijakan cepat oleh pemerintah.
- Penguatan Budidaya: Mengembangkan sektor budidaya sebagai penopang saat tangkapan laut menurun akibat cuaca ekstrem.
“Penyediaan data harga yang transparan sangat penting. Dengan data valid, pemerintah bisa merespons lebih cepat ketika terjadi anomali harga di pasar, sehingga inflasi tetap terkendali dan kesejahteraan nelayan tetap terjaga,” pungkas Safaruddin. (Rls)







