Mamuju, 8enam.com.-Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Perpusip) Provinsi Sulawesi Barat mengajak seluruh penulis dan penerbit di Tanah Malaqbi untuk mengambil peran dalam melestarikan aset intelektual daerah. Melalui gerakan “Serah Simpan Karya”, para pegiat literasi diimbau untuk menitipkan hasil karya cetak maupun rekam mereka agar tetap abadi dan menjadi referensi ilmu pengetahuan bagi generasi mendatang.
Langkah ini merupakan implementasi dari amanat Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2018 tentang Serah Simpan Karya Cetak dan Karya Rekam (SSKCKR), sekaligus upaya menyelamatkan sejarah pemikiran lokal dari risiko kepunahan akibat perkembangan zaman.
Membangun Fondasi SDM Lewat Budaya Literasi
Inisiatif ini selaras dengan visi besar Gubernur Sulawesi Barat, Suhardi Duka (SDK), yang menempatkan pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM) dan penguatan budaya literasi sebagai pilar kemajuan daerah. Dengan mengarsipkan karya-karya lokal, pemerintah memastikan kedaulatan pengetahuan Sulawesi Barat tetap terjaga.
Sekretaris Dinas Perpusip Sulbar, Nursina Achir, menegaskan bahwa perpustakaan daerah siap menjadi “rumah” bagi setiap gagasan yang lahir dari buah pikir putra-putri Sulawesi Barat.
”Kami ingin setiap buku yang lahir di Sulbar memiliki tempat terhormat di perpustakaan kita. Penyerahan karya ini bukan sekadar pemenuhan kewajiban undang-undang, melainkan cara kita menyusun Bibliografi Wilayah. Ini adalah identitas literasi kita agar tidak hilang ditelan zaman,” jelas Nursina di ruang kerjanya, Kamis (12/3/2026).
Kemudahan Akses dan Kolaborasi
Nursina menambahkan, Dinas Perpusip Sulbar berkomitmen memberikan pelayanan maksimal bagi para penulis dan penerbit yang ingin menyerahkan karyanya. Sesuai regulasi, penerbit wajib menyerahkan dua eksemplar karya cetak ke Perpustakaan Nasional dan satu eksemplar ke perpustakaan provinsi.
”Kami melayani dengan tangan terbuka. Ini adalah kerja kolaborasi. Dengan menitipkan karya, para penulis memastikan pemikiran mereka terdata secara resmi dan menjadi referensi abadi bagi masyarakat luas,” tambahnya.
Melalui program ini, Perpusip Sulbar berharap database literasi daerah semakin kaya, sehingga dapat mempermudah para peneliti, akademisi, dan masyarakat umum dalam mengakses khazanah pengetahuan asli Sulawesi Barat. (Rls)







