Example 300250
DaerahMamuju Utara

Puluhan Persen Desa di Sulbar Masih ‘Blank Spot’, Suraidah Suhardi: Akses Internet Bukan Kemewahan, tapi Keadilan!

×

Puluhan Persen Desa di Sulbar Masih ‘Blank Spot’, Suraidah Suhardi: Akses Internet Bukan Kemewahan, tapi Keadilan!

Sebarkan artikel ini

Pasangkayu, 8enam.com.-Masalah sinyal internet di pelosok daerah kerap dianggap sepele, namun Wakil Ketua DPRD Sulawesi Barat, Suraidah Suhardi, membongkar realitas lain: keterbatasan koneksi adalah potret ketimpangan keadilan pembangunan yang nyata.

​Saat menjadi narasumber dalam forum Sekolah Internet Komunitas Informasi Masyarakat (Senter KIM) di Pasangkayu, Jumat (21/8/2026), Suraidah membeberkan data krusial terkait kesenjangan digital di Sulawesi Barat.

​”Internet bukan lagi sekadar kemewahan, melainkan infrastruktur kehidupan yang menghubungkan masyarakat dengan pendidikan, pertanian, UMKM, hingga layanan publik. Persoalan jaringan adalah isu keadilan pembangunan,” tegas Suraidah di hadapan peserta.

Data Menohok: Jurang Digital di Tanah Mandar

​Merujuk pada data tahun 2025 yang dipaparkan Suraidah, potret infrastruktur jaringan di Sulbar masih menyisakan pekerjaan rumah berat:

30,25% Desa masih berstatus blank spot atau terkendala sinyal lemah.

38,67% Fasilitas Layanan Publik belum terjamah koneksi internet yang memadai.

​Kondisi tersebut berdampak langsung pada terhambatnya pelayanan dasar bagi warga di wilayah terpencil.

Lobi Pusat & Solusi Nyata Lewat BAKTI Komdigi

​Menyadari keterbatasan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) untuk membiayai infrastruktur jaringan di wilayah Sulbar yang begitu luas, Pemprov Sulbar di bawah kepemimpinan Gubernur Suhardi Duka terus mendesak pemerintah pusat untuk turun tangan.

​”Untuk APBD itu tidak cukup. Sebab itu, kerja sama dengan BAKTI Komdigi terus kita dorong agar persoalan blank spot di daerah dapat kita atasi secara bertahap,” ungkapnya.

KIM Diminta ‘Naik Kelas’ Tangkal Hoaks

​Di sisi lain, hadirnya sinyal membawa pisau bermata dua: lonjakan arus informasi dan ancaman hoaks. Suraidah menekankan agar anggota KIM tidak berhenti pada peran distributor info biasa.

​Komunitas diharapkan naik kelas menjadi filter cerdas sekaligus motor penggerak literasi digital yang mempertemukan potensi desa, UMKM, dan pasar digital, demi memastikan konektivitas berujung pada peningkatan kesejahteraan warga.

Editor : Ammar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *