Mateng, 8enam.com.-Di balik derap pembangunan, potret kemiskinan ekstrem masih membekas nyata di pelosok Kabupaten Mamuju Tengah tepatnya di Desa KUO kecamatan Pangale. Arif Usman (58) bersama putra kecilnya, RD (11), terpaksa menjalani hari-hari di sebuah gubuk sempit berukuran 2×3 meter yang jauh dari standar kelayakan hidup, Jumat (6/11/2026).
Gubuk yang berdiri di atas lahan milik kerabatnya tersebut lebih menyerupai tempat perlindungan darurat daripada sebuah rumah. Tanpa aliran listrik, tanpa sanitasi, dan tanpa perabotan, struktur bangunan kecil itu menjadi satu-satunya saksi bisu perjuangan mereka bertahan hidup di tengah keterbatasan.
Bertahan dalam Gelap dan Kedinginan
Kondisi di dalam gubuk sungguh memprihatinkan. Tidak ada kasur empuk untuk melepas lelah; Arif dan RD hanya mengandalkan selembar kain tipis sebagai alas tidur di atas lantai yang dingin. Saat malam tiba, kegelapan total menyelimuti tempat tinggal mereka. Tanpa lampu penerangan, aktivitas mereka terhenti seketika saat matahari terbenam.
”Hanya ada kain untuk alas tidur. Tidak ada listrik, tidak ada lemari, apalagi barang elektronik. Kami bertahan dengan apa yang ada saja,” ungkap Arif dengan nada getir.
Cermin Ketimpangan Sosial
Kisah Arif Usman adalah pengingat bagi semua pihak bahwa di tengah upaya penguatan ekonomi daerah, masih ada warga yang “tercecer” dan luput dari fasilitas dasar. Ketiadaan perabotan rumah tangga dan akses energi menunjukkan betapa beratnya beban ekonomi yang harus dipikul oleh kepala keluarga di usia senja seperti Arif.
Pendidikan dan masa depan RD (11) juga menjadi kekhawatiran tersendiri. Hidup dalam gubuk tanpa meja belajar dan penerangan yang layak tentu menjadi hambatan besar bagi tumbuh kembang dan semangat belajarnya.
Harapan untuk Uluran Tangan
Potret kehidupan Arif Usman diharapkan dapat mengetuk pintu hati para dermawan, organisasi sosial, maupun instansi pemerintah terkait melalui program bedah rumah atau jaminan sosial. Intervensi segera sangat dibutuhkan, mulai dari pemenuhan sandang, pangan, hingga akses hunian yang lebih manusiawi demi masa depan RD yang lebih cerah.
Sinergi antara masyarakat dan pemerintah daerah menjadi kunci agar warga seperti Arif Usman tidak lagi merasa berjuang sendirian di tengah kemiskinan yang mencekik. (Rls)







