
Mamuju, 8enam.com.-Cuaca ekstrem kembali melanda wilayah Sulawesi Barat di awal tahun 2026. Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) BPBD Provinsi Sulawesi Barat resmi menerima laporan dampak angin kencang yang menerjang Kecamatan Banggae dan Banggae Timur, Kabupaten Majene, Selasa (06/01/2026) sore.
Laporan yang masuk pada Rabu (07/01/2026) tersebut merinci sejumlah kerusakan pada fasilitas publik dan pemukiman warga akibat terjangan angin yang terjadi pukul 16.30 WITA tersebut.
Dampak Kerusakan dan Respons Cepat TRC
Berdasarkan data dari Pusdalops BPBD Majene, tercatat satu unit rumah warga mengalami kerusakan dan satu unit kantor pemerintahan mengalami kerusakan serius pada bagian atap. Selain itu, sebuah pohon besar tumbang dan sempat menutup badan jalan, yang memicu kemacetan arus lalu lintas.
Menanggapi situasi tersebut, Tim Reaksi Cepat (TRC) setempat langsung bergerak ke lokasi untuk melakukan asesmen awal. Petugas melakukan evakuasi material pohon tumbang menggunakan gergaji mesin guna memastikan akses transportasi kembali normal dan aman bagi pengguna jalan.
Instruksi Gubernur : Prioritas Keselamatan Warga
Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Sulbar, Muhammad Yasir Fattah, menegaskan bahwa pihaknya terus melakukan koordinasi intensif dengan BPBD Kabupaten Majene untuk memantau perkembangan di lapangan.
Langkah ini merupakan implementasi langsung dari arahan Gubernur Sulawesi Barat, Suhardi Duka (SDK), yang menginstruksikan seluruh jajaran kebencanaan untuk mengutamakan perlindungan warga di tengah cuaca ekstrem.
“Penanganan cepat adalah prioritas kami untuk memastikan keselamatan masyarakat dan keberfungsian fasilitas publik tetap terjaga. Sesuai arahan Bapak Gubernur, koordinasi lintas level harus diperkuat,” tegas Yasir Fattah.
Pentingnya Edukasi Kebencanaan
Selain penanganan fisik, Yasir Fattah juga menekankan pentingnya edukasi berkelanjutan kepada masyarakat mengenai mitigasi bencana. Mengingat saat ini memasuki periode cuaca ekstrem, warga diimbau untuk waspada terhadap potensi pohon tumbang dan kerusakan atap bangunan.
“Inilah pentingnya edukasi kepada masyarakat tentang kebencanaan. Kesadaran mandiri warga untuk menjauhi area rawan saat angin kencang sangat membantu dalam meminimalisir risiko korban jiwa,” pungkasnya. (Rls)







